Minggu, 01 Mei 2011

Manusia Makhluk Logis

0



Ada sebuah pepatah mengatakan “Buah merupakan jati diri dari pohonnya, buah merupakan mahkota pohonnya”, begitupun pada manusia  bahwa yang menjadi mahkota manusia adalah budi pikirannya. Dengan berpikir secara logis dan benar, manusia menjadi pintar, jujur dan berdisiplin dalam membuahkan gagasan-gagasannya dan menghasilkan ciptaan-ciptaannya. Logika, falsafah hidup dan perwujudannya dalam kenyataan hidup mengacu kepada kebenaran, kebaikan dan keindahan bila mau dikatakan bermutu. Lalu munculah masalah: dalam kenyataan hidup memang teramat sering mengatakan sesuatu yang lain. Betulkah manusia berbakat berpikir logis? Bila logis sama dengan rasional, tidakkah kebanyakan orang dikuasai oleh emosi-emosi mereka? Betulkah mereka itu sungguh-sungguh berminat untuk mencari dan menemukan kebenaran? Tidakkah mereka hanya mempercayai apa yang mereka inginkan saja untuk mereka percayai? Bila logis itu sama dengan berakal sehat, tidakkah banyak orang yang tidak sehat akalnya, pernyataan-pernyataannya tak logis, tak rasional?
Memang benar, bahwa dalam kenyataan amat sering kita berpikir tak logis (tak rasional), atau bahkan gagal berpikir sama sekali. Terlalu sering kita hanya percaya kepada apa yang kita inginkan saja untuk kita percayai, tanpa mengindahkan fakta-fakta. Kadang-kadang tidak ada argument logis yang dapat  meyakinkan seseorang karena pikirannya dikuasai oleh keangkuhan atau ketakutan atau suatu emosi lain yang mendalam. Memang faktanya tidak ada orang yang dapat berpikir  rasional kalau emosi telah menguasai pikiran-pikirannya. Hal ini penting untuk diingat supaya kita tidak berlaku ceroboh dalam mengapresiasi kemampuan berpikir logis kita. Mengatakan bahwa manusia berpikir logis secara sempurna itu juga tidak benar. Logika dan perasaan adalah hikmat hidup manusia; masing-masing ada perannya sendiri; yang satu tidak lebih tinggi dan tidak lebih berharga dari yang lain.
Berpikir logis diperlukan bila, misalnya, kita harus memecahkan suatu masalah dalam matematika, atau mempertimbangkan suatu tanda bukti dalam perkara pengadilan. Apakah tertuduh terbukti bersalah? Kalau kita berkata, “Tidak, sebab saya menyukai orang itu,” atau “Ya, sebab saya benci dengan orang itu,” kalau kita bertindak seperti itu maka kita kita tidak berpikir secara rasional. Tugas orang yang berpikir rasional mempelajari bukti-bukti menurut faktanya. Kita harus menyingkirkan pendapat-pendapat pribadi (emosi) dari pikiran kita bila pemikiran kita harus bersangkut-paut dengan fakta-fakta, dengan masalah-masalah. Kalau kita terapkan dalam bidang kesenian dan kesusastraan, itu berarti bahwa nilai karya seni tidak boleh diukur menurut pandangan-pandangan politik. Jika kita biasa mengikuti emosi atau perasaan saja dalam menentukan apa yang benar dalam bidang hukum, sastra, seni, dan sebagainya, sekaranglah saatnya untuk membenahi sikap itu.
            Supaya kita tidak terkelabui oleh pemikiran-pemikiran diri sendiri atau oleh pemikiran-pemikiran orang lain, sebaiknya kita memahami duduk perkaranya, disini perlu kita bedakan tiga pengertian berikut ini; berpikir logis, berpikir non-logis, dan berpikir ilogis. Bila ada orang yang menyatakan, “Berat badan saya terlalu tinggi; saya harus mengurangi makan saya,” ia membuat pernyataan logis. Bila ada yang berkata, “Saya suka makan yang manis-manis,” ia memberikan  pernyataan non-logis. Bila ada orang yang berkata, “Anak itu saya beri nilai baik untuk semua mata pelajaran saya karena dia cantik-simpatik,” ia mungkin baru dimabuk asmara sehingga melanggar aturan-aturan logika (berlaku tak logis/ilogis, tak rasional/irasional). Perlu menjadi catatan bahwa non-logis tidaklah sama dengan tak logis; non-logis tidak berarti melanggar aturan logika, melainkan berarti tidak dapat diperdebatkan. Selera, misalnya, tidak dapat diperdebatkan; selera masuk kedalam area non-logis. Bila saya lebih menyukai novel detektif daripada novel percintaan, saya tidak “berdosa” terhadap logika, tetapi bila saya harus membuat resensi novel percintaan, saya harus mengikuti aturan-aturan logika; kalau tidak, saya akan terperosok kedalam suatu yang tak logis/ilogis.
            Untuk mengetahui kemampuan atau hal-hal yang berkenaan dengan berpikir logis, marilah kita fahami apa yang dikatakan oleh Rene Descartes, filsuf besar dari Perancis pada abad ke-17: “Pikiran sehat, dari semuanya, paling merata dimiliki oleh orang-orang…”Pikiran sehat adalah good sense dalam bahasa Inggris. Ia melihat bahwa setiap orang memandang dirinya memiliki pikiran sehat. Malahan orang-orang yang mengeluh karena tidak mempunyai hal-hal yang lain, kata Descartes, “umumnya tidak ingin memiliki pikiran sehat lebih banyak daripada yang sudah dimilikinya.” Ia percaya bahwa kepercayaan orang akan pikiran sehatnya itu merupakan bukti yang terpercaya bahwa akal sehat merupakan bakat yang lebih merata yang dimiliki oleh orang-orang daripada hal yang lain manapun.
            Yang dimaksud dengan “pikiran sehat” oleh Descartes ialah unsur asasi yang berada di dalam daya kuasa kita berpikir (penalaran): kemampuan membedakan yang benar dari yang tak benar. Pikiran sehat (good sense) inilah yang ada pada setiap orang; berpikir sehat, bisa diibaratkan seperti bernafas, adalah sesuatu yang kodrati, berjalan dengan sendirinya. Tidak akan ada orang yang akan mengakui bahwa orang lain lebih mampu membedakan yang benar dari yang tak benar. Seseorang mungkin akan mengakui orang lain lebih pandai, lebih cerdas, lebih tajam ingatannya. Akan tetapi, perbedaan-perbedaan pengetahuan atau ingatan tersebut disebabkan oleh karena metode-metode berpikirnya: metode berpikir orang yang satu lebih baik dan benar daripada metode berpikir orang lain. Metode-metode berpikirlah yang semestinya akan membantu kita untuk memecahkan masalah-masalah kita dengan lebih berhasil, baik itu masalah ilmu atau bisnis, hubungan sosial atau politik, persahabatan atau cinta kasih.
            Rene Descartes mempunyai metode berpikirnya sendiri yang telah diperaktekannya sejak masih muda. Adapun metodenya mencakup empat langkah:
  1. Jika Anda tidak mengetahui dengan jelas bahwa sesuatu adalah benar, maka janganlah Anda percaya akan hal itu.
  2. Pecah-pecahkanlah setiap masalah menjadi banyak bagian yang lebih kecil.
  3. Mulailah menangani hal-hal yang paling sederhana dan paling mudah untuk dipahami, kemudian meningkat pada masalah-masalah yang lebih sulit.
  4. Bila anda mendaftar unsur-unsur suatu masalah, upayakanlah sungguh-sungguh daftar ini lengkap, dan tidak ada satu hal pun yang disisihkan.
Setelah kita membaca uraian metode berpikirnya Descartes bahwa kita sebagai manusia pada dasarnya cenderung berpikir logis, hendaknya janganlah kita berpendapat bahwa orang yang logis selalu menganggap dirinya benar, mengetahui dirinya mengetahui. Orang yang logis tidak akan berkata, “Akal budi selalu benar, dan aku adalah suara akal budi.” Itu bukanlah gambaran orang yang logis. Orang yang logis sadar akan kesulitan-kesulitan dalam membuktikan apa yang benar, misalnya kesulitan dalam berpikir secara lurus dan jernih tentang masalah-masalah yang menyangkut emosi kita dan kepentingan diri kita sehingga kita tidak mau mempertimbangkan sesuatu dari kedua belah sisi, tidak mendukung pernyataan-pernyataan kita dengan bukti-bukti, tidak menerima pandangan-pandangan orang yang berkuasa secara kritis. Apa yang dikehendaki oleh orang berpikir logis hanya: Jika Anda mengaku telah membuktikan sesuatu – tentang apa saja – data-data yag Anda gunakan untuk membuktikan itu harus diperiksa dengan sungguh-sungguh. Logika menunjukkan kepada kita cara memeriksa bukti-bukti itu.
Kalaulah kita diminta untuk berpikir logis-kritis seperti itu, tidak berarti kita harus bersikap mempertanyakan sesuatu tanpa batas. Orang yang sama sekali tidak (mau) mempunyai kepercayaan apa pun yang positif kerap kali tidak ada gunanya; dan hidup tanpa kepercayaan akan sesuatu yang positif tidak tertahankan. Daripada meragukan segala sesuatu, kita harus siap sedia untuk percaya apabila sudah ada tanda bukti yang cukup; dan janganlah kita menghakimi sesuatu apabila tanda buktinya belum cukup. Dengan kata lain, bersikap “Kritis” tetapi tidak “negatif”. Ilmuwan yang sejati akan bersikap dan berkata, “Marilah kita menguji kepercayaan-kepercayaan kita dengan evidensi; kita bersedia mengubah kepercayaan-kepercayaan kita bila evidensi berubah, tidak pernah mengaku kepercayaan-kepercayaan kita sudah final, tetapi menerima bahwa probabilitas-probabilitas sangat kuat sehingga kita dapat bergantung betul-betul kepada beberapa kebenaran yang penting.”
Dengan demikian, logika bukanlah usaha untuk memperdayakan seseorang. Logika hanyalah pelajaran tentang cara-cara untuk memperoleh pengetahuan yang dapat dipercaya. Logika ingin membantu kita untuk berpikir secar jelas, untuk memanfaatkan pikiran sehat kita dengan sebaik-baiknya. Seperti segala sesuatu yang lain, logika mempunyai tempatnya sendiri. Tempatnya, antara lain, waktu Anda berusaha untuk memutuskan apakah Anda akan mempercayai atau tidak mempercayai apa yang dikatakan benar oleh orang lain, atau waktu kita masing-masing hendak menunjukkan bahwa apa yang kita katakan benar itu sungguh benar.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by ThemeShift | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Templates | Best Web Hosting