Minggu, 08 Mei 2011

Islamisasi Ilmu Pengetahuan (teori evolusi dan atheisme bagian 6)

0

Oleh   :     Ismail Fajar Romdhon



Sebagaimana telah diterangkan di atas bahwa teori evolusi memiliki dampak yang merusak akal sehat bahkan menghancurkan kehidupan beragama. Dan tentu saja musuh terbesarnya adalah umat Islam. Oleh karenanya perlu adanya penanaman nilai-nilai keislaman dalam bidang pendidikan. Darwinisme adalah produk peradaaban Barat dan merupakan bagian dari ilmu pengetahuan modern. Darwinisme juga telah menjadi icon bagi peradaban Barat.
            Ismail Raji Al-Faruqi menjelaskan pengertian islamisasi sains sebagai usaha yaitu memberikan definisi baru, mengatur data-data, memikirkan lagi jalan pemikiran dan menghubungkan data-data, mengevaluasi kembali kesimpulan-kesimpulan, memproyeksikan kembali tujuan-tujuan, dan melakukan semua itu sedemikian rupa sehingga disiplin-disiplin itu memperkaya wawasan Islam dan bermanfaat bagi cause (cita-cita) Islam. Menurutnya, Islamisasi dibangun di atas konsep Tauhid, Penciptaan, Kebenaran dan Ilmu Pengetahuan Kehidupan dan Kemanusiaan.
Sementara menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, islamisasi sains adalah pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur-nasional (yang bertentangan dengan Islam) dan dari belenggu paham sekuler terhadap pemikiran dan bahasa. Juga pembebasan dari kontrol dorongan fisiknya yang cenderung sekuler dan tidak adil terhadap hakikat diri atau jiwanya, sebab manusia dalam wujud fisiknya cenderung lupa terhadap hakikat dirinya yang sebenarnya, dan berbuat tidak adil terhadapnya.
Ini bermakna Islamisasi adalah satu proses pembebasan individu dari pandangan alam tahayul dan sekuler. Justeru itulah kita dapat melihat bagaimana dalam konteks umat Melayu-Indonesia, proses Islamisasi berlaku dengan membebaskan mereka dari pandangan hidup animis, Hindu, Budha yang mereka anut sebelum Islam tiba.           
Apabila dipahami secara mendalam, dari berbagai ide Islamisasi sains yang berkembang saat ini, paling tidak ada lima metode yang dapat didekati. Kelima metode tersebut senantiasa berkembang dan mempunyai pengikut yaitu pendekatan konsep Intrumentalistik, Justifikasi, Sakralisasi, Integrasi, dan Paradigma.
Konsep Islamisasi sains dengan pendekatan instrumentalistik merupakan suatu konsep yang menganggap ilmu atau sains sebagai alat (instrumen). Bagi mereka yang berpandangan bahwa sains, terutama teknologi adalah sekedar alat untuk mencapai tujuan, tidak memperdulikan sifat dari sains itu sendiri. Yang penting sains tersebut bisa membuahkan tujuan bagi pemakainya. Tokoh metode ini adalah Jamaluddin al-Afghani, kemudian Muhammad Abduh, Rasyid Ridho, Sir Sayyid Ahmad Khan.
Islamisasi sains yang paling menarik bagi sebagian ilmuwan dan kalangan awam adalah Islamisasi sains dengan metode justifikasi. Maksud justifikasi adalah penemuan ilmiah modern, terutama di bidang ilmu-ilmu alam diberikan justifikasi (pembenaran) melalui ayat Al-Quran maupun Al-Hadits.
Tokoh yang kerapkali mengemukakan masalah kesesuaian ayat-ayat Al-Quran dengan penemuan ilmiah modern adalah Maurice Bucaille, dan mempengaruhi banyak pemikir muslim, di antaranya Harun Yahya.
Konsep Islamisasi sains berikutnya menggunakan pendekatan sakralisasi. Artinya, sains modern yang sekarang ini bersifat sekular dan jauh dari nilai-nilai spiritualitas, diarahkan menuju sains mempunyai nilai sakral. Ide ini dikembangkan pertama kali oleh Seyyed Hossein Nasr. Dilanjutkan oleh murid-muridnya di antaranya yang paling aktif adalah Osman Bakar.
Dalam sains sakral, iman tidak terpisah dari ilmu dan intelek tidak terpisah dari iman. Rasio merupakan refleksi dan ekstensi dari Intellek. Ilmu pengetahuan pada akhirnya terkait dengan Intelek Ilahi dan Bermula dari segala yang sakral. Nasr menegaskan, Sains Sakral bukan hanya milik ajaran Islam, tetapi dimiliki juga oleh agama Hindu, Budha, Confucious, Taoisme, Majusi, Yahudi, Kristen dan Filsafat Yunani klasik.
Ide Islamisasi sains yang paling populer adalah metode integrasi, yaitu mengintegrasikan sains Barat dengan ilmu-ilmu Islam. Ide Islamisasi ini diusung oleh Ismail Raji Al-Faruqi. Islamisasi ilmu pengetahuan, kata Al-Faruqi, adalah solusi terhadap dualisme system pendidikan kaum Muslimin saat ini. Baginya, dualisme sistem pendidikan harus dihapuskan dan disatukan dengan paradigma Islam, yaitu tauhid. Paradigma tersebut bukan imitasi dari Barat, bukan juga untuk semata-mata memenuhi kebutuhan ekonomis dan pragmatis pelajar untuk ilmu pengetahuan profesional, kemajuan pribadi atau pencapaian materi. Namun, paradigma tersebut harus diisi dengan sebuah misi, yang tidak lain adalah menanamkan, menancapkan serta merealisasikan visi Islam dalam ruang dan waktu.
Konsep Islamisasi sains yang dirasakan paling mendasar dan menyentuh akar permasalahan sains adalah konsep dengan pendekatan yang berlandaskan paradigma Islam. Ide Islamisasi sains seperti ini yang disampaikan pertama kali secara sistematis oleh Al-Attas. Bahkan secara khusus ia menyebut permasalahan Islamisasi adalah permasalahan mendasar yang bersifat epistemologis.
Islamisasi sains atau ilmu pengetahuan kontemporer secara Paradigma digagas oleh Syed M. Naquib Al-Attas. Beliau mengemukakan pikirannya tentang tantangan terbesar yang sedang dihadapi kaum Muslimin adalah sekularisasi ilmu pengetahuan.
Proses Islamisasi sains itu sendiri dilakukan menurut Al-Attas dengan dua cara yang saling berhubungan dan sesuai urutan, yaitu pertama ialah melakukan proses pemisahan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat, dan kedua, memasukan elemen-elemen Islam dan konsep-konsep kunci ke dalam setiap cabang ilmu pengetahuan masa kini yang relevan. Jelasnya, ilmu hendaknya diserapkan dengan unsur-unsur dan konsep utama Islam setelah unsur-unsur dan konsep pokok dikeluarkan dari setiap ranting.
Islamisasi sains tidak bisa tercapai hanya dengan menempeli (melabelisasi) sains dan prinsip Islam atas sains sekular. Usaha yang demikian hanya akan memperburuk keadaan dan tidak ada manfaatnya selama "virus"nya masih berada dalam tubuh sains itu sendiri sehingga sains yang dihasilkan pun jadi mengambang, Islam bukan dan sekularpun juga bukan. Padahal tujuan dari Islamisasi itu sendiri adalah untuk melindungi umat Islam dari sains yang sudah tercemar yang menyesatkan dan menimbulkan kekeliruan. Islamisasi sains dimaksudkan untuk mengembangkan kepribadian muslim yang sebenarnya sehingga menambah keimanannya kepada Allah, dan dengan Islamisasi tersebut akan terlahirlah keamanan, kebaikan, keadilan dan kekuatan iman.
Menurut Al-Attas, sebelum melakukan islamisasi ilmu pengetahuan, ada dua tahap yang harus diprioritaskan oleh umat Islam. Pertama, menguasai ilmu pengetahuan modern. Ini berarti bahwa para ilmuwan muslim hendaknya memiliki penguasaan yang komprehensif terhadap sains modern. Mereka harus mengerti tentang isu dan metode yang tepat untuk melakukan pendekatan terhadap sains. Mereka juga harus memahami aspek-aspek analisis, kritis dan objektivitas sain menurut paradigma Barat dan menurut pandangan Islam. Melalui penguasaan ilmu pengetahuan modern, umat Islam akan mudah untuk mengakses dan melakukan kritik terhadap konsep-konsep yang bertentangan dengan Islam.
Kedua, umat Islam harus menguasai warisan ilmu dari Nabi SAW. Penguasaan ini akan memberikan kemampuan baagi umat Islam untuk membangun persepsi baru dari sebuah pengetahuan. Yaitu ilmu pengetahuan dalam pandangan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dia harus memahami berbagai teks keagamaan yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah.[1]



[1]Syed Mohammad Naquib Al-Attas, The Islamization of Knowledge. Hal 88

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by ThemeShift | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Templates | Best Web Hosting