Senin, 10 Oktober 2011

Selayang Pandang Eksistensialisme Menurut Sartre

0




jean paul satre

Dalam artikel ini penulis akan mengangkat tema eksistensialisme, khususnya eksistensialisme Sartre. Tema inilah yang dapat penulis sajikan. Ini tidak terlepas dari kurangnya referensi mengenai tema yang sesungguhnya penulis ingin angkat yaitu kritisismenya Imanuel Kant. Karena hal itulah penulis urungkan niat untuk memenuhi tugas kuliah Filsafat aliran dengan tema kritisisme Kant. Tapi bukan berarti diangkatnya tema eksistensialisme Sartre mencirikan bahwa penulis sudah sangat lengkap referensi tentang eksistensialisme tapi pas-pasan. Pas-pasan karena penulis merasa bahwa bahan-bahan yang ada sudah dipandang cukup untuk memenuhi kriteria penyusunan artikel filsafat, yaitu terangkumnya analisis mengenai ontology, epistemology, dan aksiologi dari pemikiran tokoh aliran filsafat tertentu.
Meskipun begitu penulis akan berusaha sajikan secara maksimal tema yang akan sedikit diulas ini. Eksistensialisme juga sepanjang yang penulis amati ternyata amat mengena terhadap jiwa beberapa mahasiswa UIN. Mereka ini teman saya juga. Berdasarkan yang penulis amati mereka rata-rata sangat faseh dan hapal istilah-istilah yang digunakan kaum eksistensialis bahkan mereka mentasbihkan diri sebagai pengikut aliran eksistensialis. Kata-kata yang sangat lumrah terucap dari mulut mereka ialah,”bebas we jeung say amah”/ “abdi mah jalmi bebas”. Itulah kata-kata yang biasa mereka ucapkan dalam berkomunikasi. Fenomena seperti ini kiranya kita bisa gali dari ajaran yang mereka yakini. Seperti apakah eksistensialisme itu?menjadi tanda tanya besar bagi penulis saat mulai dikenalkan dengan wacana-wacana asing seperti itu. Penulis sempat bertanya beberapa isi dari pemikiran salah satu tokoh eksistensialisme pada seorang teman satu jurusan yang dipandang kompeten, membaca buku-buku yang mengulas tentang eksistensialisme dan lain sebagainya. Sehingga akhirnya kini penulis memiliki sedikit kepahaman tentang tema yang digandrungi oleh beberapa teman penulis. Dan kiranya penulis akan sajikan dalam artikel ini.



Riwayat Hidup Sartre

JEAN-PAULSARTE lahir di Paris pada tanggal 21 Juni 1905. ayahnya adalah perwira angkatan laut Prancis dan Ibunya Anne Marie Schweitzer, anak bungsu dan anak satu-satunya Charles Schweitzer, seorang guru bahasa dan sastra Zerman didaerah Alsace. Ayahnya meninggal dua tahun setelah kelahiran Sartre dan Ibu bersama anaknya pulang kerumah ayahnya, Charles Schweitzer, di Meudon. Sesudah empat tahun mereka pindah ke Paris.
            Charles Schweitzer, memegang peranan besar sekali dalam membesarkan Sartre dan mengembangkan bakatnya sebagai pengarang. Kakek itu sebenarnya beragama Kristen Protestan, tetapi ia menyetujui bahwa anak-anaknya dididik dalam agama istrinya, Louise Guillemin, yaitu agama Kristen Katolik Sartre juga dibaptis dan dibesarkan secara Katolik.
            Sampai umur sepuluh tahun empat bulan anak yang sangat pandai itu diberi pengajaran di rumah. Selama itu ia hidup ditengah-tengah orang dewasa, tanpa adik, tanpa teman sebaya. Dunianya adalah perpustakaan kakeknya. Dapat dimengerti bahwa dengan masuk sekolah suatu dunia sama sekali baru terbuka bagi dia. Ia diterima di lycee Henri IV  di Paris, tetapi tahun berikut ibunya menikah lagi dan mereka pindah lagi ke La Rochelle. Sesudah beberapa tahun ia disekolahkan lagi di Paris, yaitu Lycee Louis-le-Grand. Pada tahun 1924 ia sempat masuk di Ecole Normale Superieure, perguruan tinggi ini yang paling selektif dan paling terkemuka di Prancis. Untuk ujian Agregation ia satu kali jatuh tetapi tahun berikutnya, tahun 1929, ia berhasil meraih Agregation de philosophie sebagai nomer satu.
            Sekitar tahun 1929 Sartre berkenalan dengan Simone de Beauvoir, mahasiswi filsafat di Universitas Sorbonne. Pertemuan itu menjadi titik tolak persahabatan akrab sepanjang hidup mereka. Tetapi mereka menolak untuk menikah, sebab perkawinan oleh mereka, kata Simone de Beauvoir, dianggap sebagai suatu lembaga borjuis saja.
            Sebagai mahasiswa dan guru muda Sartre termasuk golongan  intelektual      berhaluan kiri. Objek kritiknya terutama kaum borjuis dengan norma-norma dan tradisinya. Dibidang filsafat, Sartre dan kawan-kawannya menyerang idealisme dan setiap pemujaan terhadap “hidup batin”. Mereka mengkritik professor-profesor mereka di Universitas yang berpretensi dapat mencapai perubahan-perubahan kemasyarakatan hanya dengan ide-ide atau koreksi terhadap ide-ide. Kritik ini tentu dipengaruhi pengalaman sekitar Perang Dunia I dan Revolusi di Rusia. Di kemudian hari ia akan mengatakan bahwa pada waktu itu ia belum menyadari bahwa filsafat yang dicarinnya sebenarnya sudah ada, yaitu Marxisme. Ia memang membaca beberapa karya Karl Marx, tetapi diakuinya kemudian belum masuk sungguh-sungguh kedalam alam pikiran ini.
             Sejak tahun 1931 Sartre mengajar sebagai guru filsafat di Lycee, berturut-turut di Le Havre, Laon dan Paris. Pada waktu itu ia mulai berkenalan dengan fenomenologi Husrel dan tahun 1933-1934 ia mendapat kesempatan untuk mempelajari lebih mendalam aliran filsafat ini pada “Lembaga Prancis” di Berlin.
             Dalam periode yang sama Sartre memulai kariernya sebagai Sastrawan. Salah satu karya sastra yang penting ialah novelnya yang pertama berjudul La Nausee (1938). Disini dengan lebih jelas kita menemui sejumlah tema yang akan kembali dalam filsafanya nanti. Ia juga mulai terjun dalam kritik kesenian. Pelbagai majalah memuat karangan-karangannya tentang kesustraan maupun seni rupa.
            Setelah studinya selesai Sastre sudah memenuhi wajib militer (1929-1931). Ketika Perang Dunia II pecah, ia dipanggil lagi masuk ketentaraan. Karena tugasnya pada dinas meteorology, ia mempunyai waktu luang untuk membaca dan menulis. Dari Juni 1940-April 1941 ia ditahan di Zerman sebagi tahanan perang. Dalam tahanan ia menulis dan menyutradarai sebuah drama yang mengisahkan peristiwa natal, tetapi sebenarnya mengecam pendudukan Palestina oleh tentara Roma. Bagi penonton budiman cukup jelas bahwa apa yang dimaksudnya sesungguhnya pendudukan Prancis oleh tentara Zerman. Pengalaman ini membuka mata Sartre bagi drama sebagai media ekspresi.
            Pada tahun 1964 Sastre dipilih sebagai pemenang hadiah nobel bagian kesusastraan. tetapi ia menolak, dengan itu ia menolak keuntungan financial yang tidak sedikit. Menrima hadiah itu demikian pendapatnya akan mengurangi kebebasannya, karena dengan itu ia dimasukan kedalam golongan tertentu, yaitu golongan borjuis atau kapitalis. Kegiatannya sebagai pengarang akan dibekukan. Karena alasan yang sama katanya ia akan menolak juga hadiah Lenin, seandainya diberikan oleh Uni Soviet. Selaku pengarang ia ingin tetap mempertahankan posisinya yang independen ditengah blok-blok social politik yang ada pada waktu itu.
            Pada tahun 1966 ia mengambil bagian dalam International Tribunal against war crimes in Vietnam yang telah didirikan oleh filsuf inggris tersohor yaitu Bertrand Russell. Maksud lembaga pengadilan itu adalah menyelidiki kejahatan-kejahatan perang yang dilakukan Amerika di Vietnam dengan menggunakan norma-norma yang sama yang telah diciptakan oleh Negara-negara demokratis untuk menyelidiki kejahatan-kejahatan perang Nazi Zerman dalam pengadilan Nuremberg pada tahun 1946.
            Ketika revolusi mahasiswa pecah di Paris pada bulan Mei 1968, Sartre mengikuti peristiwa-peristiwa besar yang berlangsung penuh perhatian besar dan turut mengecam tindakan-tindakan polisi Prancis yang dinilai terlalu kejam.
            Beberapa tahun kemudian(1973) ia mengambil inisiatif untuk menerbitkan surat kabar baru. Bersama dengan suatu staf yang yang terdiri dari orang-orang berhaluan kiri, ia mulai menerbitan harian (non-kapitalistis, katanya) yang akan memperjuangkan kepentingan kaum buruh. Nama yang dipilih ialah liberation(pembebasan). Surat kabar ini tidak memuat iklan, yang dianggapnya sebagai kebiasaan kapitalistis. Dan semua karyawan mendapat gaji yang sama: dari montir mesin sampai dengan dewan redaksi. Tetapi karena kesulitan-kesulitan financial harian ini sering merana dan beberapa kali harus berhenti sementara.
            Ketika ia mencapai usia 70 tahun (1975), kejadian itu diperingati oleh banyak majalah dan media lainnya. Suatu wawancara panjang dengan Sartre disajikan oleh majalah le nouvel observateur. Ia mengakui bahwa sejak dua tahun ia mengidap pelbagai penyakit. Kakinya merasa sakit jika berjalan lebih dari 1 kilometer, dan yang paling berat, matanya semakin kabur hingga hampir buta.membaca dan menulis tidak mungkin lagi: “kegiatan saya sebagai pengarang sudah musnah sama sekali”. Perayaan hari ulang tahun ke-70 itu menjadi semacam pamitan umum. Ia meninggal lima tahun kemudian tanggal 15 April 1980, sesudah sebulan dirawat di Rumah Sakit.  

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by ThemeShift | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Templates | Best Web Hosting