Tampilkan postingan dengan label Socrates. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Socrates. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Mei 2011

Retorika sebagai Seni

0

Seorang pemimpin, seorang pelobi yang ulung, calon legislatif, ahli pidato, para penceramah keagamaan, sales, para pedagang kaki lima, seorang Guru, dsb, mau tidak mau harus menguasai retorika bahasa, karena dengan retorika yang baik dan benar maka kehendak yang ada dalam pikiran yang ingin kita sampaikan kepada orang lain bisa tersampaikan lebih jauhnya lagi keinginan kita akan terwujud.

Kita sering mendengarkan atau menyimak seseorang yang sedang berbicara baik itu diatas mimbar maupun tidak, pada satu waktu kita merasa enak, cepat faham ketika mendengarkan pemaparan dari sang pembicara, pada lain waktu kita di buat pusing tujuh keliling untuk bisa memahami apa maksud yang hendak disampaikan oleh sang pembicara itu, kata-kata atau bahasa yang disampaikan si pembicara itu tidak tentu ujung pangkal, sulit difahami alur pembicaraannya, kenapa?.

Disinilah Retorika mengambil peran sangat penting dalam mengatasai hal-hal seperti yang disebutkan diatas, lantas apa yang disebut dengan retorika itu? Seperti apa? Apakah bisa dipelajari?. Untuk menjawab hal-hal seperti itu maka saya akan mencoba memberi sedikit penjelasan, disini bukannya saya telah ahli dalam ber-retorika, tapi  sebagai sumbangsih saya terhadap keilmuan, khususnya dalam memahami logika, dan bahasa.

Definisi Retorika

Retorika atau dalam bahasa Inggris rhetoric berasal dari bahasa Latin rhetorica yang berarti ilmu bicara. Menurut Cleanth Brooks dan Robert  Penn Warren, mereka mendefinisikan retorika sebagai the art of using language effectively atau seni penggunaan bahasa secara efektif.

Kedua pengertian tersebut menunjukkan bahwa retorika mempunyai pengertian sempit: mengenai bicara, dan pengertian luas: penggunaan bahasa, bisa lisan, dapat juga  tulisan. Oleh karena itu ada sebagian orang yang mengartikan retorika sebagai  public speaking atau pidato di depan umum, banyak juga yang beranggapan bahwa retorika tidak hanya berarti pidato di depan umum, tetapi juga termasuk seni menulis.

Sejarah Retorika

  1. Yunani
Kalau kita menelaah sejarah retorika, sungguh retorika memiliki sejarah yang sangat panjang sekali. Para ahli berpendapat bahwa retorika sudah ada sejak manusia ada.  Akan tetapi sesuai dengan tema saya “Retorika sebagai Seni”  lebih khususnya seni dalam bicara sudah di pelajari mulai pada abad kelima sebelum Masehi ketika kaum Sofis di Yunani mengembara dari tempat yang satu ketempat yang lain untuk mengajarkan  pengetahuan mengenai politik dan pemerintahan dengan penekanan terutama pada kemampuan berpidato. Pemerintah, menurut kaum Sofis harus berdasarkan suara terbanyak atau demokrasi sehingga perlu adanya usaha membujuk rakyat demi kemenangan dalam pemilihan-pemilihan. Maka berkembanglah seni pidato yang membenarkan pemutarbalikkan kenyataan demi tercapainya tujuan. Yang penting, khalayak bisa tertarik perhatiannya dan terbujuk.

Kaum Sofis berpendapat bahwa manusia adalah “makhluk yang berpengetahuan dan berkemauan”. Manusia mempunyai penilaian sendiri mengenai baik-buruknya sesuatu, mempunyai nilai-nilai etikanya sendiri, karena itu kebenaran suatu pendapat hanya dapat dicapai apabila seseorang dapat memenangkan pendapatnya terhadap pendapat-pendapat orang-orang lain yang berbeda dengan norma-normanya. Jadi sangat tidak mengherankan bila pada masa itu orang-orang melatih diri untuk memperoleh kemahiran dalam berbicara sehingga inti pembicaraan beralih dari mencari kebenaran kepada mencari kemenangan.

Tokoh aliran Sofisme ini adalah Georgias (480-370 SM) yang dianggap sebagai guru retorika yang pertama dalam sejarah manusia. Filsafat mazhab Sofisme ini dicerminkan oleh Georgias yang menyatakan bahwa kebenaran suatu pendapat hanya dapat dibuktikan jika tercapai kemenangan dalam pembicaraan.

Adapun yang menjadi lawan dari pendapat Georgias adalah pendapatnya Protagoras (500-432 SM) dan Socrates (469-399 SM). Protagoras berpendapat bahwa kemahiran berbicara bukan demi kemenangan, melainkan demi keindahan bahasa. Sedangkan bagi Socrates, retorika adalah demi kebenaran dengan dialog sebagai tekniknya karena dengan dialog kebenaran akan timbul dengan sendirinya.

Dari sini kita dapat manarik kesimpulan bahwa yang membedakan kaum Sofisme dan Filusuf adalah terletak pada tujuan, kalau kaum Sofisme bukan kebenaran yang menjadi tujuan tetapi kemenangan berargumenlah yang menjadi tujuan, sementara kaum filusuf, kalah atau menang dalam berargumen bukanlah yang menjadi tujuan, tetapi bagi mereka menjungjung nilai-nilai kebenaranlah yang paling utama.

Ada seseorang yang sangat dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Socrates dan Georgias yaitu Isocrates yang pada tahun 392 SM mendirikan sekolah retorika dengan menitikberatkan pendidikannya pada pidato-pidato politik. Isocrates, dia berpendapat dan menjadi filsafatnya yaitu, bahwa hakikat pendidikan adalah kemampuan membentuk pendapat-pendapat yang tepat mengenai masyarakat. Dengan sekolahnya itu, Isocrates selama 50 tahun berhasil mendidik murid-muridnya menjadi pemimpin yang baik.

Plato seorang murid dari Socrates yang sangat terkenal, sependapat dengan Isocrates, yaitu bahwa retorika memegang peranan penting bagi persiapan seseorang untuk menjadi pemimpin. Menurut Plato, retorika sangat penting sebagai metode pendidikan, sebagai sarana untuk mencapai kedudukan dalam pemerintahan dan sebagai sarana untuk mempengaruhi rakyat. Plato mengatakan bahwa retorika bertujuan memberikan kemampuan menggunakan bahasa yang sempurna dan merupakan jalan bagi seseorang untuk memperoleh pengetahuan yang luas dan dalam.

Yang tidak kalah penting sebagai salah seorang tokoh retorika pada zaman Yunani adalah Aristoteles yang sampai sekarang pendapatnya masih banyak dikutip. Aristoteles sangat berlainan dengan pendapat tokoh-tokoh lainnya yang memandang retorika sebagai suatu seni, Aristoteles memasukkannya sebagai bagian dari filsafat. Dalam bukunya, Retorika, dia mengatakan, “Anda, para penulis retorika, terutama menggelorakan emosi. 


Ini memang baik, tetapi ucapan-ucapan Anda lalu tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tujuan retorika yang sebenarnya adalah membuktikan maksud pembicaraan atau menampakkan pembuktiannya. Ini terdapat pada logika. Retorika hanya menimbulkan perasaan pada suatu ketika kendatipun lebih efektif dari pada silogisme. Pernyataan yang menjadi pokok logika dan juga bagi retorika akan benar bila telah diuji oleh dasar-dasar logika.” Demikian Aristoteles. Selanjutnya dia berkata bahwa keindahan bahasa hanya dipergunakan untuk empat hal yaitu yang bersifat:

1)      Membenarkan (corrective),
2)      Memerintah (instructive),
3)      Mendorong (sugestive),
4)      Mempertahankan (defensive).

Dalam membedakan bagian-bagian struktur pidato, Aristoteles hanya membaginya menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Pendahuluan,
  2. Badan,
  3. Kesimpulan.
Bagi Aristoteles, retorika adalah the art of persuasion. Lalu ia mengajarkan bahwa dalam retorika, suatu uraian harus:

1)      Singkat,
2)      Jelas,
3)      Meyakinkan.

Demikian retorika di Yunani.



  1. Romawi
Di Romawi yang mengembangkan retorika adalah Marcus Tulius Cicero (106-43 SM) yang menjadi termasyhur karena suaranya dan bukunya yang berjudul antara lain de oratore.

Sebagai seorang tokoh retorika Cicero meningkatkan kecakapan retorika menjadi suatu ilmu. Berkenaan dengan sistematika dalam retorika, Cicero berpendapat bahwa retorika mempunyai dua tujuan pokok yang bersifat:

(1)   Suasio (anjuran)
(2)   Dissuasio (penolakan).

Cicero mengajarkan bahwa dalam mempengaruhi pendengar-pendengarnya, seorang retor harus meyakinkan mereka dengan mencerminkan kebenaran dan kesusilaan. Dalam pelaksanaanya, retorika meliputi:

(a)    Investio

Ini berarti mencari bahan dan tema yang akan dibahas. Pada tahap ini bahan-bahan dan bukti-bukti harus dibahas secara singkat dengan memperhatikan keharusan pembicara:

1.      Mendidik,
2.      Membangkitkan kepecayaan,
3.       Menggerakan hati.

(b)   Ordo collocatio

Ini mengandung arti menyusun pidato yang meminta kecakapan sipembicara dalam memilih mana yang lebih penting, mana yang kurang penting. Penyusun pidato juga meminta perhatian terhadap:

1.      Exordium (pendahuluan)
2.      Narratio (pemaparan)
3.      Confirmatio (pembuktian)
4.      Reputatio (pertimbangan)
5.      Peroratio (penutup).

Demikianlah retorika di Romawi yang banyak persamaannya dengan retorika di Yunani.


  1. Zaman Modern
Pada abad ke-17 di Eropa muncul tokoh-tokoh orator yang kenamaan, seperti Oliver Cromwell dan Lord Bollingbroke.

Retorika biasanya berkembang pada masa-masa krisis, begitu pula dengan kemunculan Cromwell di Inggris. Dalam mengajarkan teknik retorika, Cromwell mengatakan bahwa dalam melaksanakan retorika:

a.       Harus mengulang hal-hal yang penting,
b.      Harus menyesuaikan diri denga sikap lawan,
c.       Bila perlu tidak menyinggung persoalan,
d.      Harus orang-orang menarik kesimpulan sendiri,
e.       Harus menunggu reaksi.

Sedangkan menurut Henry Bollingbroke bahwa bila kekuasaan politik berlandaskan kekuatan fisik, maka retorika merupakan kekuatan mental.

Pada abad ke-20 di Jerman muncullah seorang tokoh retorika yang termasyhur yaitu Adolf Hitler yang berhasil memukau rakyat Jerman sehingga bersedia melakukan apa pun. Resep Hitler dalam retorikanya ialah: mengunggulkan diri sendiri, membusukkan dan menakut-menakuti lawan, kemudian menghancurkan. Hakikat retorika Hitler  adalah  senjata psikis untuk memelihara massa dalam keadaan perbudakan.

Hitler tidak saja mencari anggota, tetapi juga – bahkan ini yang terutama -  mencari pengikut sebanyak-banyaknya. Bagi Hitler mereka tak perlu sadar, tak usah berpikir, asal ikut saja, asal bergerak saja, tidak usah semuanya menjadi anggota partai. Demikian Hitler.

Sementara muncul pula di Prancis seperti Jean Jaures, di Amerika ada Abraham Lincoln, di Indonesia ada Ir. Sukarno, Presiden RI yang pertama paling dikenal dengan sebutan sng proklamator. Ir. Sukarno sebagai seorang yang faham dan penelaah retorika, dapat dilihat dari tulisan-tulisannya seperti yang dimuat dalam Fikiran Ra’jat pada tahun 1933 dan  Panji Islam pada tahun 1940  (terhimpun dalam buku Dibawah Revolusi Indonesia).

Dalam artikel berjudul “Kuasanya Kerongkongan”, Bung Karno mengutip pendapat-pendapat mengenai retorika yang ditulis oleh Willi Munzenberg, Konrad Heiden, Trotzky, dan Stenberg.

Dibawah ini adalah pendapat Bung Karno ketika ia membandingkan beberapa ahli pidato:

“Menurut keterangan Konrad Heiden, seorang biograf  Hitler  yang terkenal, memang belum pernah di sejarah dunia ada orang yang  menyamai Hitler tentang ‘Massen bewegen konnen’ itu. Menurut Heiden, di dunia barat hanyalah satu orang yang menyamai Hitler tentang kecakapan berpidato: Gapon salah seorang yang terkenal dari sejarah kaum agama di Rusia pada permulaan abad ini. Saya kira Konrad Heiden belum pernah mendengarkan Jean Jaures berpidato.

            Jean Jaures adalah salah seorang pemipin kaum buruh Perancis, yang biasa disebut orang “Frankrijks grootste wolkstribuun’ dari abad akhir-akhir ini. Menurut anggapan saya, sesudah saya membandingkan pidato-pidato Adolf Hitler – pidato-pidato Adolf Hitler bukan sahaja saya banyak baca, tapi juga sering saya dengarkan di radio – maka Jean Jaures adalah maha hebat. Trotzky, yang sendirinya juga juru-pidato yang maha haibat, di dalam dia punya buku ‘Mijn leven’ yang terkenal, membandingkan pidato-pidato Jean Jaures itu sebagai ‘air terjun yang membongkar bukit-bukit karang’, sebagai ‘een waterval die rotsen omvergooit’.”

Banyaknya Bung Karno membaca buku mengenai retorika didasarkan atas keyakinannya bahwa retorika memegang peranan penting dalam kepemimpinan.

Mudah-mudahan bermanfaat bagi pencinta ilmu!


(download dalam bentuk document)

Read more

Senin, 25 April 2011

Esensi Sebuah Filsafat, Bagian 2

0



oleh            : Sena Zaeni Aqwam,


Hayran                  : akan tetapi, dari manakah datangnya kekuatan cinta dan benci?
Syaikh                   : maukah engkau mendiskusikan suatu pendapat yang dibangun diatas fantasi? Empedocles tidak merasa cukup sampai disini saja. Bahkan ia menganggap bahwa jiwa-jiwa tersusun dari empat unsur, meskipunia lebih menekankanunsur udara dan api. Api adalah dewa Zeus, udara adalah dewa Hera, bumi ialah dewa Arcus dan air adalah dewa Nestis, yakni dewa yang menangis, kemudian air matanya berjatuhan layaknya embun yang berjatuhan diatas bumi. Dari sini, Empedocles semakin jauh mengigau, sehingga ia menganggap bahwa kita semua ini adalah dewa-dewa.

Kemudian datang Demokritus sebagai pencipta teori atom. Dialah orang yang pertama kali menguraikan bahwa alam semesta ini terdiri dari bilangan atom-atom yang tiada habisnya. Atom-atom ini serupa, sejenis, azali, abadi, dan bergerak dengan sendirinya didalam kekosongan. Dari gerakannya dan percampurannya, tersusunlah semua yang ada dan terciptalah alam semesta ini. Tentang perbedaan sifat yang ada hal itu timbul karena perbedaan pertalian, susunan dan letak atom-atom didalam benda, serta perbedaan orang yang menelitinya.

Demokritus beralasan bahwa keazalian dan keabadian atom adalah karena segala wujud tidak bisa timbul dari yang bukan wujud, sebagaimana yang wujud tidak mungkin berubah menjadi tidak ada. Seandainya atom itu tidak berada dalam kekosongan, ia tidak mungkin bergerak. Dari sinilah, ia sampai pada kesimpulan bahwa di alam ini, ada tiga realitas dasar yaitu atom, kekosongan dan gerak (les atoms, le vide, le mouvement).



Hayran                  : Bukankah didalam susunan ala material yang terdiri dari atom-atom ini terdapat sesuatu yang jauh dari jangkauan akal?lantas siapakah yang menciptakan atom-atom ini, dan siapa pula yang menggerakkannya?
Syaikh                   : Jawaban atas pertanyaanmu itu tidak dimiliki oleh Demokritus melainkan oleh yang lainnya. Demokritus telah menyimpang dari kebenaran berpikir ketika ia mengira bahwa gerak atom-atom itu merupakan akibat dari “keniscayaan mutlak” yang mendorongnya untuk bergerak dan bertemu, berjalan dan bercampur. Susunan alam ini, termasuk benda-benda mati, tumbuh-tumbuhan dan hewan, hingga ruh-ruh dan dewa-dewa, menurut pendapatnya tersusun dari atom-atom yang berjalan dengan “keniscayaan mutlak”.


Sesudah Demokritus, datanglah Anaxagoras yang menyerang ide-ide Demokritus tentang “keniscayaan mutlak” dan meremehkannya pula. Ia mengatakan –seolah-olah ia seorang mukmin yang agung- bahwa mustahil kekuatan “keniscayaan mutlak” itu mampu menciptakan keindahan dan tata aturan yang Nampak jelas pada alam ini. Kekuatan tersebut tidak menghasilkan apapun melainkan hanya kekacauan. Zat yang menggerakkan benda tidak lain adalah akal, kesadaran dan pandangan yang bijak.

Hayran                  : Ini sesuatu yang agung sekali. Apakah mungkin Anaxagoras, dengan kata-katanya itu, bermaksud menetapkan eksistensi Allah?
Syaikh                   : aku tidak tahu,Hayran. Sebab, petunjuk Allah melalui lisan para rosul-Nya adalah terlebih dahulu daripada orang Yunani dan filsafat mereka. Akan tetapi, menurut pikiranku, lebih tepat untuk dikatakan, bahwa sebagian besar filsafat klasik di Mesir, di Tiongkok, di India, merupakan sisa-sisa ajaran-ajaran kenabian yang telah dilupakan oleh sejarah. Mereka yang mempunyai pemikiran ini kemudian dimasukkan kedalam kelompok filosof. Boleh jadi diantara mereka adalah termasuk para nabi, atau setidaknya, pengikut ajaran nabi. Yang jelas dari kata-kata Anaxagoras ini, ia masih berputar-putar di sekitar masalah keimanan ini ketika ia menyadari –dengan akalnya yang sehat- bahwa susunan yang teratur ini tidak mungkin timbul kecuali dari “akal yang bijaksana”. Oleh karena itu, Anaxagoras dianggap sebagai orang pertama yang membuka pintu filsafat spiritualisme dan datang dengan pikiran yang masih mengembara di sekitar kebenaran. Inilah yang membuat Aristoteles mengatakan bahwa Anaxagoras adalah satu-satunya orang yang tetap menjaga kesadaran akalnya di hadapan “igauan” orang-rang sebelumnya.
Hayran                  : Alhamdulillah, kita telah sampai kepada tempat munculnya filsafat yang lebih tinggi daripada sekedar igauan.
Syaikh                   : Memang, filsafat berjalan kea rah kebenaran, meskipun dengan lengkah yang lambat. Kadang-kadang ia dirintangi oleh kaum skeptic seperti, misalnya orang-orang sofis. Dengan gaya perdebatan mereka yang menakjubkan, yang nyaris mematikan semua pemikiran yang sehat.
Hayran                  : saya mendengar kata sofisme berarti perdebatan yang menipu.
Syaikh                   : Memang, dari kata sofis timbullah kata sofisme. Sofisme adalah suatu metode yang ditempuh untuk memutar balikkan kebenaran oleh mereka yang pandai mengajari manusia melalui perdebatan bohong. Kata sofis, ddidalam bahasa Yunani, berarti guru dalam ilmu terapan dan ilmu murni. Kemudian kata ini dipakai untuk menyebut guru-guru tersebut. Dari kata ini pula orang-orang Arab mengambil istilah safsathah.
………………………………………………………………………………………………………………………………………… Hayran, disini engkau akan melihat igauan itu begitu lemah dan rendah, sehingga tidak pantas dimasukkan ke dalam pembahasan filsafat, meskipun Giorgias telah berjasa karena ia telah melahirkan Socrates.
Hayran                  :Bagaimana igauan itu dapat melahirkan Socrates yang bijak?
Syaikh                   : Socrates adalah orang yang berjasa meletakkan dasar dan membangun filsafat pengetahuan (epistemologi). Karena jasanya, epistemology masih menawan akal yang sehat sejak lebih 2000 tahun yang lalu hingga masa kita sekarang ini, betapapun orang ramai membicarakannya, Hayran. Tujuan Socrates dalam filsafat tiada lain adalah untuk meletakkan kaidah-kaidah pengetahuan diatas rasio dan menguatkan dasar keutamaan pada hati orang banyak diatas landasan kebenaran yang tidak bisa diragukan lagi. Filosof yang suci ini melihat bahwa moral manusia pada masanya telah bobrok gara-gara orang Sofis yang telah mengingkari rasio, kebenaran, keyakinan dan keutamaan-keutamaan moral. Mereka telah mengembalikan dasar-dasar pengetahuan seluruhnya kepada perasaan (persepsi indra). Oleh karena itulah, Socrates berusaha untuk mengembalikan dasar-dasar pengetahuan kepada rasio yang keputusan-keputusannya disepakati oleh semua orang tanpa ada perselisihan. Dengan itu, definisi keutamaan bisa dibakukan.

Socrates berpendapat, adalah tidak rasional apabila pengetahuan bisa diperoleh hanya dengan indra, karena indra berbeda-beda berdasarkan perbedaan individu, suasana dan keadaan. Oleh karena itu, kita harus mencari sumber yang pasti untuk pengetahuan yang tidak diperselisihkan orang selamanya. Apabila kita memperhatikan pengetahuan kita saat ini, kita melihat bahwa pengetahuan itu meliputi hal-hal yang particular yang datang pada kita melalui metode pengindraan, dan hal-hal universal yang tidak mempunyai wujud diluar pikiran yang bisa diindra.

Untuk itu, Socrates membuat satu contoh tentang makna spesies. Makna spesies dapat diketahui oleh akal kita dengan cara mengumpulkan sifat-sifat yang sama yang diiliki oleh setiap spesies dan meninggalkan sifat-sifat yang menonjol yang tampak pada sebagian spesies. Selanjutnya, Socrates mengatakan bahwa pengetahuan ini, yaitu pengetahuan tentang sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh indra dan tidak mempunyai wujud yang nyata diluar pikiran, adalah pengetahuan universal yang keberadaannya tidak diragukan lagi oleh seorang yang berakal, yakni bahwa ia semata-mata merupakan hasil dari aktivitas rasio.pengetahuan universal dan rasional inilah yang seharusnya menjadi dasar pengetahuan. Oleh karena itu, seandainya objek indra yang particular berbeda-beda menurut perbedaan individu, suasana, keadaan, dan konteksnya, berarti akal –sebagai sesuatu yang umum dan dimilki bersama oleh semua orangtidak mungkin berbeda-beda selama akal itu sehat. Dengan pengetahuan yang rasional dan universal ini, kita dapat membuat standarisasi yang benar dan permanen tentang kebenaran, dan juga mengetahui apa yang dimaksud dengan keutamaan.

Sesudah Socrates,, datanglah muridnya, yaitu Plato yang terkenal itu. Ia menguatkan teori pengetahuan yang dibuat oleh gurunya itu dan menambahkan argumentasinya sendiri. Aka tetapi, kita tidak tahu, mengapa ia meletakkan pengetahuan ini diatas dasar sejumlah ide. Lantas apa pula yang dimaksud dengan ide-ide itu?

Plato berpendapat bahwa makna yang universal bukanlah sesuatu yang bisa dicapai oleh indra, melainkan oleh akal semata. Keindahan dan keburukan, misalnya, adalah dua hal yang dapat kita ketahui pada perkara yang banyak sekali, yang berbeda-beda gejala dan bentuknya. Lalu, apakah yang menyebabkan kita mendefinisikan bahwa semua perkara ini berkaitan dengan keindahan dan perkara yang lain berkaitan dengan keburukan? Bukan indra kita yang mengetahui keterkaitan itu, melainkan rasio kitalah yang empertemukan dan memperbandingkan perkara-perkara didalam  hal keindahan, sehingga ia mengetahui bahwa pada perkara-perkara itu terdapat keindahan. Namun, agar rasio dapat mempertemukan dan memperbandingkan perkara-perkara ini, ia mesti mempunyai suatu ide yang asli dan orisinil tentang keindahan dan keburukan. Seandainya kita mengatakan bahwa ide itu berasal dari kreasi akal kita, berarti kita mundur ke belakang mengikuti orang-orang Sofis yang mengukur kebenaran berdasarkan standarisasi individu murni (subjektivisme). Jadi, kita harus mengatakan bahwa pengertian universal itu mempunyai wujud hakiki dibaik akal pikiran kita. Inilah yang dimaksud oleh Plato dengan ide (les idees).

Ia juga mengatakan bahwa jiwa-jiwa kita, sebelum menitis kedalam jasad, telah hidup di dunia ide. Ketika jiwa telah menyatu kedalam jasad, ia agak melupakan dunia ide. Akan tetapi  ia meletakkan pandangannya tentang jiwa berdasarkan pengertian yang universal, seperti pengertian keindahan dan keburukan, engkau akan teringat terhadap contoh yang dikemukakannya melalui jalan perbandingan, engkaupun akan mengetahui kebaikan dan keburukan pada suatu perkara. Demikianlah keadaan semua pengertian universal seperti keutamaan, keadila, kebaikan, dan lain-lain. Dengan demikian, ilmu ialah upaya mengingat-ingat ide, sedangkan kebodohan ialah keadaan lupa terhadap ide. Sementara pengalaman-pengalaman didalam kehidupan dunia, tidak lain merupakan wasilah untuk membangunkan dan mengingatkan akal terhadap apa yang pernah diketahui sebelumnya di dunia ide.


Hayran                  : Akan tetapi Syaikh, apa yang dimaksud dengan dunia ide itu dan bagaimana hakikatnya?
Syaikh                   : Adalah hakmu untuk merasa heran, sebagaimana juga dialami oleh Aristoteles yang hidup sebelumnya. Plato menguraikan dunia ide tersebut dengan sifat-sifat yang banyak sekali sehingga dunia ide itu tidak dapat dimengerti dan tidak rasional, kecuali apabila diiehendakinya dengan ide tersebut adalah segala perkara yang ada didalam ilmu Tuhan. Aku menduganya demikian, Hayran. Sebab, Plato mengatakan bahwa ide terseut bukanlah materi, melainkan pengertian yang abstrak. Unsur-unsur dan Unsur-unsur dan keberadaannya berasal dari dirinya, bukan dari hal-hal diluarnya. Dunia ide menjadi dasar segala sesuatu. Ia tidak bersandar pada suatu perkara yang lain, tetapi yang lain itu bersandar padanya. Ide bersifat langgeng, permanen,abadi, diam, sempurna dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Tidakkah engkau memahami sifat-sifat tersebut? Artinya, bahwa Plato hamper menghendaki perkara-perkara yang ada di dalam ilmu Allah?
Hayran                  : Apakah Plato mempercayai eksistensi Allah?
Syaikh                   : Plato termasuk salah seorang filosof pertama yang berbicara tentang eksistensi Tuhan, yakni bahwa Tuhan adalah Pencipta alam semesta dan Yang Mengaturnya. Untuk itu, Plato mengemukakan bukti-bukti. Diantaranya yang terpenting ialah bukti tentang kerapian. Ia berpendapat bahwa alam ini merupakan suatu tanda keindahan dan kerapian. Selamanya, ala mini tidak mungkin terjadi secara kebetulan, melainkan ia adalah ciptaan Zat Yang Berakal, Mahasempurna, Pemilik kebaikan, dan Pengatur segala sesuatu berdasarkan suatu maksud dan hikmah tertentu.

Akan tetapi, ketika Plato hendak menggambarkan dan melukiskan bagaimana Tuhan membuat alam ini, akalnya terbentur pada suatu problem yang biasa kita jumpai. Ia tidak mampu membayangkan bagaimana makhluk tercipta dari ketiadaan (cretio ex nihilo). Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa semua makhluk tersusun dari materi dan bentuk (forme). Bentuk inilah yang membuat materi itu menjadi benda tertentu. Bentuk ini pula yang merupakan akibat dari ide-ide yang member corak dan bentuk tertentu pada sesuatu tersebut. Jadi, sesuatu, sebelum mengambil bentuk berdasarkan idenya, sehingga ia memperoleh hakikat wujud setelah asalnya tidak ada. Zat yang memberikan corak yang sesuai dengan idenya sehingga materi itu menemukan bentuknya –setelah sebelumnya tidak ada- itulah Tuhan.
Hayran                  : saya tidak mengerti, mengapa benda itu tidak ada sebelum mengambil bentuknya?
Syaikh                   : engkau tidak mengerti, demikian juga aku. Plato sendiri, dengan rasionya yang lurus dan sempurna, juga tidak mengerti, bagaimana mungkin sesuatu itu merupakan sebuah materi dan ketiadaan pada saat bersamaan? Akan tetapi, rasio Plato yang terlalu memaksakan diripun akhirnya terjerumus kadalam anggapan yang salah tersebut, karena tidak sanggup menggambarkan cretio ex nihilo (penciptaan dari ketiadaan murni). Ketidakberdayaan ini timbul dari analogi yang menipu dan menguasai alam pikiran kita yang tidak biasa menggambarkan terjadinya sesuatu dari ketiadaan. Akal kita terbiasa melihat sesuatu yang selalu berubah-ubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, sehingga bentuk tersebut divonis sebagai sesuatu yang baru.

Insya Allah bersambung pada dialog selanjutnya yang akan membahas tentang Aristoteles

Read more

Esensi Sebuah Filsafat, bagian 1

0

Oleh      : Sena Zaeni Aqwam


Syaikh Al-mauzun berkata:…………..para filosof mendefinisikan bahwa “filsafat adalah upaya menyelidiki hakikat semua yang ada,” atau “filsafat ialah ilmu tentang prinsip yang paling mendasar” dan lain-lain. Sementara aku sendiri lebih suka mendefinisikannya sebagai  “upaya rasio untuk mengetahui hakikat prinsip-prinsip yang paling mendasar.” Kelak engkau akan mengetahui kebenaran definisi tersebut.
……………


Kemudian Syaikh Al-Mauzun mengeluarkan buku besar dari bawah bantalnya dan mengajak Hayran untuk memulai kembali dialog mereka.
Hayran                  : Buku apa itu, Syaikh?
Syaikh                   : Buku ini berbicara kepada kita tentang para pemikir yang mencari Allah.
Hayran                  : Apa judulnya?
Syaikh                   : Para Filosof Yunani.
Hayran                  : Bagaimana Syaikh bisa mengatakan bahwa buku tersebut menceritakan para pemikir yang mencari Allah?
Syaikh                   : Memang benar, buku tersebut membicarakan para pemikir yang mencari Tuhan Yang Sebenarnya (Allah). Bukankah sudah aku katakana bahwa esensi filsafat adalah mencari TUHAN?
Hayran                  : Saya telah membaca sebagian pemikiran para filosof Yunani klasik, ternyata mereka adalah orang-orang kafir.
Syaikh                   : Memang benar, mereka kafir kepada dewa-dewa Yunani. Namun, tentang Tuhan yang Sebenarnya, mereka masih mencari-Nya. Ada yang mendapat petunjuk, ada yang akalnya tidak sanggup menggambarkan-Nya, dan ada pula yang sesat karena tidak mampu memikirkan-Nya. 


Nanti, engkau akan bahwa pemikiran-pemikiran mereka, meskipun menunjukkan kecerdasan dan keikhlasan didalam pembahasan, namun masing-masing mempunyai pandangan yang meremehkan dan meragukan alam semesta. Di dalam pemikiran mereka, masih terdapat kebenaran yang terletak ditengah-tengah kejanggalan,  ketidakjelasan,  pertentangan pikiran,  keragu-raguan dan pemutar-balikkan kebenaran.


Thales memulai pemikirannya dengan keruwetan berpikir yang menipu, yang kemudian melekat pada rasio para filosof, bahkan juga pada semua orang.  Ia tidak percaya prinsip cretio ex nihilo, yakni bahwu  “  alam tidak mungkin tercipta dari ketiadaan mutlak.”setiap permulaan pada hakikatnya adalah perubahan. Oleh karena itu, mesti ada materi pertama yang bersifat azaliyang menjadi sebab timbulnya semua eksistensi. Materi yang azali tersebut adalah air. Apa yang melatar-belakangi Thales memilih air?


Ketika membahas tentang berbagai eksistensi, ia menemukan setiap materi memiliki potensi untuk berubah dan berganti rupa. Ia menemukan bahwa air itu cair. Kadang-kadang air itu menjadi salju yang  tebal;  kadang-kadang menjadi uap yang halus; dan kemudian kembali lagi menjadi air. Thales melihat bahwa basah menjadi syarat bagi adanya kehidupan. Oleh karena itu, ia yakin bahwa air yang memiliki karakteristik tertentu merupakan asal dari semua eksistensi.


Akan tetapi Anaximenes berpendapat bahwa udara lebih lunak dan lebih mudah berganti daripada air. Udara apabila dingin, ia mencair, dan apabila panas ia menguap. Kemudian ia bertambah kerenggangannya, dan akhirnya kembali menjadi udara.  Anaximenes menganggap bahwa bika kerenggangan udara semakin bertambah, ia tentu akan menjadi api. Dari api itu, terciptalah matahari dan bulan. Apabila semakin menebal, udara iu menjadi awan, dan kemudian menjasi air. Apabila kepadatannya semakin bertambah, ia akan menjadi pasir dan bebatuan.  Anaximenes juga berpendapat bahwa udara adalah sesuatu yang niscaya bagi kehidupan.


Sedangkan Anaximender mengatakan bahwa sesungguhnya pendapat  tentang udara sebagai asal-muasal, tidak relevan dengan sifat-sifat semua yang ada. Air mempunyai sifat-sifat tersendiri, begitu juga udara, serta semua eksistensi yang ada. Oleh karena itu, tidak masuk akal, apabila semua yang ada mengandung sifat-sifat yang berbeda. Yang berbeda-beda ini mesti timbul dari asal yang mempunyai sifat-sifat khusus yang berbeda dari semua yang ada. Dari sinilah, akal Anaximender yang sehat mengharuskan dirinya untuk berkata bahwa asal uasal semua yang ada adalah materi yang tidak berbentuk, tidak berkesudahan dan tidak berbatas.


Hayran                  : Saya akui pembahasan Anaximender menunjukkan adanya pemikiran yang mendalam.  Akan tetapi, apa perlinya disebut materi, apabila materi itu tidak berbentuk, tidak berkesudahan dan tidak berbatas?
Syaikh                   : dari sini, engkau akan melihat kebenaran perkataanku tadi. Para filosof klasik dapat dimaafkan ketika mereka mengingkari dewa-dewa Yunani. Mereka juga dapat dibenarkan apabila rasio mereka yang bebas berusaha mencari asal mula alam. Mereka tidak menisbatkan asal mula alam pada dewa-dewa yang memiliki moral seperti manusia tersebut. Rasio mereka tidak mempercayaibahwa alam semesta ini ciptaan dewa-dewa yang rakus, pembohong, pemabuk, penipu dan cabul. Secara tidak disadari, mereka sedang mencari Tuhan Yang Sebenarnya.


Kemudian, datang Phytagoras yang tidak puas dengan cara tersebut karena berisi penafsiran alam dengan cara naturalis. Ia menempuh metode matematis. Ia berkata bahwa tidak ada sifat yang mencakup alam kecuali sifat angka (le nombre). 


Kita dapat membayangkan sesuatu tanpa warna, rasa,  bau atau  volume. Tapi kita tidak bisa membayangkan sesuatu yang tidak menerima angka. Jadi, angka adalah satu-satunya sifat yang dimiliki bersama oleh semua yang ada di alam. Angka itulah satu-satunya yang pantas menjadi asal muasal alam, sebab semua yang ada di alam merupakan gambaran angka yang berulang-ulang. Angka itu sendiri merupakan gambaran pengulangan dari satu. Jadi, satu itulah yang menjadi asal muasal alam semesta ini, menjadi sebab keberadaannya dan merupakan hakikatnya.


Pemikiran-pemikiran abstrak ini tenggelam dalam fantasi. Namun, itu semua menunjukkan adanya upaya-upaya manusia untuk sampai pad aide tentang Tuhan Yang Sebenarnya, Tuhan Yang terlepas dari sifat-sifat materi, baik yang dirasakan maupun yang tidak dirasakan oleh mereka.


Hayran                  : Apakah di kalangan orang Yunani klasik terdapat pemikiran tentang eksistensi Tuhan (lain) yang bukan dewa-dewa mereka?
Syaikh                   : Bumi ini tidak pernah sunyi dari pemikiran tentang eksistensi Tuhan Yang sebenarnya sejak manusia menjadi manusia. Dengan akalnya yang mampu berpikir, manusia menjadi makhluk yang berbeda dengan yang lainnya.
Xenophanes, salah seorang filosof Yunani klasik yang mengungguli orang-orang lain pada masanya, membuang jauh-jauh sejumlah mitos Yunani yang berisi gagasan tentang bersatunya jasad manusia dengan Tuhan (antropomorphisme). Ia mencemooh tuhan-tuhan mereka yang makan, minum, beranak dan mati. Ia mengatakan bahwa manusia sendirilah yang mengada-adakan tuhan dan melukiskannya seperti bentuk mereka. Seandainya sapi, singa, atau kuda bisa melukis, tentu mereka akan melukiskan tuhan seperti bentuk mereka. Tidak. Sama sekali tidak demikian! Tidak ada tuhan selain yang satu;eksistensi yang paling tinggi;yang tidak tersusun seperti bentuk kita; dan tidak berpikir seperti kita berpikir. Akan tetapi seluruhnya , ia lihat, ia dengar dan segalanya ia pikirkan.


Sedangkan untuk mengetahui hakikat Tuhan Yang MahaEsa, Xenophanes menganggapnya sebagai sesuatu hal yang mustahil bagi akal kita. Ia mengucapkan perkataannya yang melompat jauh ke muka-2000 tahun dari masanya. Di dalam sejarah metafisika, tidak ada seorangpun yang sanggup mengetahui Tuhan dengan teliti, meskipun-andaikata secara kebetulan di dalam menyifati Tuhan- ia menyatakan suatu kebenaran. Ia sendiri tidak mengetahui bahwa ia berkata yang benar.
Hayran                  : dari ucapan Syaikh yang mengatakan bahwa Xenophanes, dengan kata-katanya itu, telah melompat 2000 tahun dari masanya, saya bisa memahami bahwa filsafat telah sampai pada keyakinan akan eksistensi Tuhan. Jika demikian persoalannya, saya berharap Syaikh membebaskan diri dan jiwa saya dari kebodohan orang-orang dahulu, yang sebagiannya pernah say abaca ketika di Peshawar.  Sebaliknya, saya berharap agar Syaikh membawa saya pada filsafat modern. Syaikh: Aku telah berwasiat sebelumnya agar engkau bersabar. Sekarang aku ulangi wasiat itu untukmu, karena tidak ada faedahnya sama sekali untuk membawamu kepada kesimpulan yang telah dicapai oleh filsafat yang selama ini membingungkan pikiranmu, tanpa mengetahui dahulu apa yang dikatakan oleh filsafat klasik dan orang-orang abad pertengahan. Boleh jadi pendapat orang-orang modern tidak menarik perhatianmu, dan pada saat yang sama, datang orang yang meniupkan kepadamu bahwa kebenaran itu hanya milik orang-orang dahulu, sehingga engkau kembali ragu dan bimbang.


Hayran, engkau tidak akan dapat memahami secara sempurna orang-orang modern, kecuali jika engkau mengetahui orang-orang sebelum mereka. Oleh karena itu, hendaklah engkau bersabar!


Hayran                  : Sekarang saya telah memahami hikmah dari keterikatan Syaikh diantara rangkaian pemikiran itu. Saya berharap Syaikh tidak memarahi saya.
Syaikh                   : Selanjutnya, datang Parmenides yang menganggap bahwa air, udara dan bilangan atau sesuatu yang lain, tidak pantas menjadi asal muasal semua yang ada. Sebab semua yang ada senantiasa berubah. Sedangkan yang kita ketahui, hanya sifat-sifat lahir yang berubah. Semua sifat-sifat ini mengalami perubahan dan kehancuran kecuali satu sifat saja, yaitu sifat wujud (l’etre). Wujud yang abadi inilah yang dapat kita jadikan asal muasal semua yang ada.
Hayran                  : Apakah yang dimaksud sifat wujud itu?
Syaikh                   : Wujud disini, yang dimaksud Parmenides, adalah wujud yang azali, yang tidak berubah-rubah dan tidak hancur. Ia tidak mempunyai masa lampau dan masa depan. Akan tetapi ia meliputi keazalian dan keabadian. Ia tidak bergerak dan tidak dapat dibagi-bagi. Sebab, gerak adalah gambaran dari adanya perubahan. Dengan demikian, ia sempurna dan tidak ada wujud lain dibelakangnya.
Hayran                  : Bagaimana wujud itu bisa terbebas dari gerak dan perubahan, padahal kita melihat, semua yang ada ini bergerak dan berubah?
Syaikh                   : Parmenides tidak menganggap bahwa yang kita lihat dan kita rasakan ini adalah bagian dari wujud. Akan tetapi, ia memandangnnya sebagai gejala atau fantasi (apparences), karena ia hancur dan berubah-ubah. Sedangkan wujud adalah abadi. Sebaliknya, perubahan itu sendiri mengharuskan berkumpulnya wujud dan tanpa wujud. Hal ini adalah mustahil.
Hayran                  : Saya beum paham. Mungkinkah Parmenides hendak berkata tentang panteisme?
Syaikh                   : Begitulah, Hayran. Ia membuat abstraksi didalam pikirannya. Sebab, sebenarnya para filosof tersebut tidak ingin mengingkari wujud. Mereka hanya berusaha mencari yang asal dan sempurna, yang tidak berubah-ubah; yang terlepas dari sifat-sifat wujud, dan yang pantas menjadi penciptanya. Menurutku, ini adalah upaya pencarian Tuhan, meskipun mereka tidak menghendaki dan merasakannya.


Sesudah Parmenides, datanglah muridnya, Milissus. Ia melengkapi pendapat gurunya yang menyatakan wujud itu tidak berakhir, dan ia identik dengan “kehidupan yang berakal”. Apabila engkau mendengarkan pembuktiaannya yang menyatakan bahwa wujud itu azali,  abadi dan tidak berakhir, tidak pula bergerak, serta ia mempunyai “kehidupan yang berakal”, tentu engkau sependapat denganku bahwa pikiran para filosof, disadari atau tidak, senantiasa mencari Tuhan Yang Maha Esa.


Milissus mengatakan bahwa setiap yang baru pasti ada permulaannya. Sedangkan zat yang wujud itu tidaklah baru. Sebab, seandainya baru, tentu berasal dari zat yang tidak wujud. Jadi, yang wujud tersebut  tidak ada permulaannya. Apa yang tidak ada permulaannya, tidak pula mempunyai akhir. Karena ia tidak berakhir, ia tidak pula bergerak, sebab tidak ada lagi tempat sesudahnya untuk bergerak menuju tempat itu. Ia juga tidak berubah-ubah, karena kalau ia berubah-ubah, berarti ia menjadi lebih dari satu. Oleh karena itu, ia adalah esa, azali, abadi, hidup, berakal, dan tidak berubah-ubah. Coba engkau renungkan, Hayran.


Setelah itu datanglah Heraclitus yang pemikirannya senantiasa skeptis; berada diantara corak tendensi abstraktif dan tendensi natural. Ia mengatakan bahwa segala sesuatu itu, seperti yang kita lihat, senantiasa berubah, berganti-ganti secara terus menerus, dan tidak pernah tetap di dalam suatu keadaan; meskipun hanya sebentar saja. Ketetapan relative yang selama ini kita saksikan adalah suatu khayalan saja sebagai akibat ketidakmampuan kita untuk melihat adanya perubahan itu. Dari semua itu, ia berkesimpulan bahwa suatu benda, antara yang wujud dan yang bukan wujud itu adalah akhir yang menjadi hakikat wujud.


Namun, Heraclitus tidak selalu bersandar pada pendapat tersebut didalam menfsirkan alam semesta ini. Ia bahkan kembali lagi kepada tendensi natural klasik. Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa asal muasal alam semesta ini adalah api yang kemudian berubah menjadi udara, dari udara berubah menjadi air, dari air berubah menjadi kering, dari kering ini kembali lagi menjadi air, udara dan api. Demikianlah, seolah-olah ia melihat kehidupan binatang yang disertai dengan panas, lalu ia mengira bahwa ruh itu sendiri ibarat api.


Kemudian, datanglah Empedocles, filosof “empat unsur”. Awalnya ia hendak mengkompromikan pendapat Parmenides dan Heraclitus. Ia mengatakan bahwa wujud ini terdiri dari atom-atom. Apa yang dikatakan oleh Parmenides tentang wujud, bahwa ia tidak bertambah dan berkurang, adalah sesuai dengan atom-atom. Sedangkan apa yang dikatakan oleh Heraclitus tentang akhir kejadian yang terus menerus, membenarkan adanya gambaran yang berubah pada benda-benda. Dari sini, Empodocles ingin mengambil jalan tengah diantara mereka yang menyatakan bahwa alam ini terbentuk dari suatu materi yang mengalami perubahan seperti air, udara dan api, dengan mereka yang mengatakan bahwa materi dari yang wujud itu tidak berubah-ubah. Oleh karena itulah ia membuat teori empat unsur yang terus dipertahankan hingga abad ke-18.


Ia mengira bahwa wujud ini merupakan kumpulan dari empat unsur yaitu tanah, api, air dan udara. Semua yang ada adalah perpaduan dari keempat unsur ini. Perbedaan yang ada padanya hanyalah perbedaan didalam perbandingan unsur-unsurnya.


Sampai disini, Empodocles tampak sejalan dengan sains pada masanya. Bahkan ia mendahului masanya dalam meletakkan teori tentang atom. Akan tetapi, ketika ia berbicara tentang rahasia yang menggerakkan atom-atom tersebut, awalnya ia berpijak pada pemikiran yang benar, tetapi kemudian berakhir dengan suatu khayalan yang hampa. Ketika ia mengatakan bahwa bahan alam semesta ini adalah swesuatu yang tidak bernyawa, tidak pula mempunyai gerakan yang timbul dari dirinya, serta harus menerima kenyataan bahwa gerakannya berasal dari kekuatan yang berada diluarnya, maka kita melihat bahwa ia telah condong pada fantasi.


Ia mengatakan bahwa gerakan benda adalah gambaran dari pertemuan dan perpisahan. Keduanya adalah suatu hal yang berlawanan yang tidak timbul dari satu kekuatan. Bahkan ia berasal dari dua kekuatan, yang satu mendorong, yang lainnya menarik. Dua kekuatan tersebut adalah cinta dan benci (l’amour et la discorde). Keempat unsur tersebut bertemu karena adanya kekuatan cinta. Lalu ia dipisahkan oleh kekuatan benci, sehingga menjadi empat unsur. Kemudian cinta mengumpulkan kekuatannya dan mulai mengadaka pemaduan antara empat unsur tersebut, sehingga terbentuklah semua yang ada dan yang kita saksikan.

Read more

 
Design by ThemeShift | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Templates | Best Web Hosting