Jumat, 29 April 2011

Tentang Istilah

0

oleh;      
Endang Ruswandi           
Etika berasal dari bahasa Yunani ethos, yang berarti tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang; kebiasaan, adat; watak; perasaan, sikap, cara berpikir. dalam bentuk jamak ta etha artinya adat kebiasaan. Dalam arti terakhir inilah terbentuknya istilah etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Etika berarti: ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Ada juga kata moral dari bahasa Latin yang artinya sama dengan etika.

Secara istilah etika memunyai tiga arti: pertama, nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Arti ini bisa disebut sistem nilai. Misalnya etika Protestan, etika Islam, etika suku Indoan. Kedua, etika berarti kumpulan asas atau nilai moral (kode etik). Misalnya kode etik kedokteran, kode etik peneliti, dll. Ketiga, etika berati ilmu tentang yang baik atau buruk. Etika menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis menjadi bahan refleksi bagi suau penelitian sistematis dan metodis. Di sini sama artinya dengan filsafat moral.

Amoral berarti tidak berkaitan dengan moral, netral etis. Immoral berarti tidak bermoral, tidak etis. Etika berbeda dengan etiket. Yang terakhir ini berasal dari kata Inggris etiquette, yang berarti sopan santun. Perbedaan keduanya cukup tajam, antara lain: etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan, etika menunjukkan norma tentang perbuatan itu. Etiket hanya berlaku dalam pergaulan, etika berlaku baik baik saat sendiri maupun dalam kaitannya dengan lingkup sosial. etiket bersifat relatif, tergantung pada kebudayaan, etika lebih absolut. Etiket hanya berkaitan dengan segi lahiriyah, etika menyangkut segi batiniah.

Moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal, menjadi ciri yang membedakan manusia dari binatang. Pada binatang tidak ada kesadaran tentang baik dan buruk, yang boleh dan yang dilarang, tentang yang harus dan tidak pantas dilakukan. Keharusan memunyai dua macam arti: keharusan alamiah (terjadi dengan sendirinya sesuai hukum alam) dan keharusan moral (hukum yang mewajibkan manusia melakukan atau tidak melakukan sesuatu).

Macam-macam etika
a. Etika deskriptif
Hanya melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas, misalnya adat kebiasaan suatu kelompok, tanpa memberikan penilaian. Etika deskriptif memelajari moralitas yang terdapat pada kebudayaan tertentu, dalam periode tertentu. Etika ini dijalankan oleh ilmu-ilmu sosial: antropologi, sosiologi, psikologi, dll, jadi termasuk ilmu empiris, bukan filsafat.
b. Etika normatif
Etika yang tidak hanya melukiskan, melainkan melakukan penilaian (preskriptif: memerintahkan). Untuk itu ia mengadakan argumentasi, alasan-alasan mengapa sesuatu dianggap baik atau buruk. Etika normatif dibagi menjadi dua, etika umum yang memermasalahkan tema-tema umum, dan etika khusus yang menerapkan prinsip-prinsip etis ke dalam wilayah manusia yang khusus, misalnya masalah kedokteran, penelitian. Etika khusus disebut juga etika terapan.
c. Metaetika
Meta berati melampaui atau melebihi. Yang dibahas bukanlah moralitas secara langsung, melainkan ucapan-ucapan kita di bidang moralitas. Metaetika bergerak pada tataran bahasa, atau memelajari logika khusus dari ucapan-ucapan etis. Metaetika dapat ditempatkan dalam wilayah filsafat analitis, dengan pelopornya antara lain filsuf Inggris George Moore (1873-1958). Filsafat analitis menganggap analisis bahasa sebagai bagian terpenting, bahkan satu-satunya, tugas filsafat.
Salah satu masalah yang ramai dibicarakan dalam metaetika adalah the is/ought question, yaitu apakah ucapan normatif dapat diturunkan dari ucapan faktual. Kalau sesuatu merupakan kenyataan (is), apakah dari situ dapat disimpulkan bahwa sesuatu harus atau boleh dilakukan (ought).
Dalam dunia modern terdapat terutama tiga situasi etis yang menonjol. Pertama, pluralisme moral, yang timbul berkat globalisasi dan teknologi komunikasi. Bagaimana seseorang dari suatu kebudayaan harus berperilaku dalam kebudayaan lain. ini menyangkut lingkup pribadi. Kedua, masalah etis baru yang dulu tidak terduga, terutama yang dibangkitkan oleh adanya temuan-temuan dalam teknologi, misalnya dalam biomedis. Ketiga, adanya kepedulian etis yang universal, misalnya dengan dideklarasikannya HAM oleh PBB pada 10 Desember 1948.

Moral dan Hukum
Hukum dijiwai oleh moralitas. Dalam kekaisaran Roma terdapat pepatah quid leges sine moribus (apa arti undang-undang tanpa moralitas?). Moral juga membutuhkan hukum agar tidak mengawang-awang saja dan agar berakar kuat dalam kehidupan masyarakat.

Sedikitnya ada empat perbedaan antara moral dan hukum. Pertama, hukum lebih dikodifikasi daripada moralitas, artinya dituliskan dan secara sistematis disusun dalam undang-undang. Karena itu hukum memunyai kepastian lebih besar dan lebih objektif. Sebaliknya, moral lebih subjektif dan perlu banyak diskusi untuk menentukan etis tidaknya suatu perbuatan. Kedua, hukum membatasi diri pada tingkah laku lahiriah, sedangkan moral menyangkut juga aspek batiniah. Ketiga, sanksi dalam hukum dapat dipaksakan, misalnya orang yang mencuri dipenjara. Sedangkan moral sanksinya lebih bersifat ke dalam, misalnya hati nurani yang tidak tenang, biarpun perbuatan itu tidak diketahui oleh orang lain. Kalau perbuatan tidak baik itu diketahui umum, sanksinya akan lebih berat, misalnya rasa malu. Keempat, hukum dapat diputuskan atas kehendak masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara. Tetapi moralitas tidak dapat diputuskan baik-buruknya oleh masyarakat. Moral menilai hukum dan bukan sebaliknya.

[Disarikan dari K. Bertens, Etika, Jakarta: Gramedia, 2000, h. 3-45]

Pertama-tama menurut A. Sudiarja, manusia adalah mahluk yang hidup. Akan tetapi kehidupan manusia berbeda dengan mahluk hidup lainnya, baik hewan ataupun tumbuhan. Tidak hanya itu mesin juga sering dikatakan “hidup”. Lalu apa sebenarnya ciri khas dari kehidupan manusia? Menurut Sudiarja jawaban atas pertanyaan ini sangatlah penting, terutama untuk memahami alasan mengapa orang harus menghargai hidupnya.

Semua mahluk hidup dapat dikatakan sebagai hidup, jika ia bergerak dan melakukan kegiatan. Dalam arti ini sebenarnya mesin juga bisa dikatakan sebagai benda hidup. Namun jika diperhatikan lebih jauh, gerak mesin berbeda secara kualitatif dengan organisme yang hidup. Mesin bergerak karena ada intervensi dari luar. Ia juga mati karena intervensi yang kurang lebih sama. Maka kehidupan mesin adalah sesuatu yang artifisial. Kehidupan mesin adalah kehidupan tiruan dari organisme yang sungguh hidup. Mesin hanyalah benda mati.
Mahluk hidup adalah entitas yang secara konstan mempertahankan dan memperkembangan dirinya. Kedua kecenderungan itu paling tampak di dalam diri manusia. Dalam arti ini pendekatan biologis dan kimia belumlah cukup untuk memahami manusia, karena manusia lebih dari sekedar entitas biologis dan kimiawi. Pendekatan psikologi pun tidak mencukupi untuk memahami manusia, karena manusia lebih dari sekedar mahluk yang merasa di dalam hidupnya. Kehidupan manusia kaya akan cinta, penderitaan, perjuangan, dan harapan. Semua itu tidak dapat diterangkan dengan pendekatan biologis atau psikologis semata.

Secara umum dapatlah dikatakan, bahwa setiap organisme hidup memiliki jiwa. Jiwa adalah prinsip integritas atau pemersatu seluruh kegiatan yang dilakukan organisme itu. Benda mati tidaklah memiliki jiwa semacam ini. Filsafat manusia membedakan tiga tingkatan dari jiwa organisme. Pada masing-masing tingkatan, jiwa berperan secara berbeda. Yang pertama adalah jiwa vegeter. Jiwa vegeter bertindak dengan kualitas raganya. Kegiatan jiwa vegeter, dengan demikian, identik dengan kegiatan fisiknya. Contonya adalah tanaman. Gerak tanaman adalah pertumbuhan batang, daun, dan akar, dan itu semua sudah merupakan semua kegiatannya.

Yang kedua adalah jiwa sensitif. Kegiatan jiwa ini melampaui kegiatan ragawi. Artinya kegiatan jiwa ini memang masih melibatkan raga, tetapi sekaligus tidak tergantung dengannya. Kegiatan jiwa sensitif menghasilkan perasaan-perasaan seperti senang, sedih, nikmat, dan sakit. Ini adalah kegiatan mental manusia yang tidak bisa sepenuhnya disamakan dengan kegiatan fisik, walaupun masih melibatkan fisik itu sendiri. Yang ketiga adalah jiwa rohani. Menurut Sudiarja jiwa rohani mengatasi raga, sehingga bisa bertindak melampaui perasaan dan organ-organ material. Hasilnya berupa pemikiran, argumentasi, dan cita-cita yang bersifat menetap.

Sebagai mahluk hidup manusia adalah individu yang memiliki kesatuan. Kesatuan ini disebut juga sebagai kesatuan substansial. Pada manusia kesatuan substansial ini sangat kuat, sehingga menghasilkan fenomena kesadaran dan subyektivitas. Subyektivitas ini memungkinkan orang untuk mengatakan “aku” sebagai orang yang bertanggungjawab. Kesatuan substansial ini adalah kesatuan yang kompleks dari keseluruhan dimensi manusia. Kesatuan ini juga berbeda dengan bagian-bagian yang membentuknya. Kesatuan bagian lebih tinggi dari sekedar kumpulan dari bagian-bagian itu. Kesatuan inilah yang merupakan inti kehidupan manusia.
sumber : Tim Dosen UPT-MKU Unika Widya Mandala, Diktat Filsafat Manusia, Surabaya, tidak dipublikasikan. Diktat kuliah kumpulan tim dosen MKU ini juga banyak mengacu pada catatan kuliah yang dibuat oleh A. Sudiarja di Yogyakarta.


(download dalam bentuk document)

Read more

Rabu, 27 April 2011

ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN

0

Oleh    :  Fulan Samwan


Judul di atas adalah tema diskusi yang diberikan oleh dosen mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar (IAD) pada salah satu pertemuan. Tema tersebut sangat menarik. Ini terlihat dari antusiasme para mahasiswa dalam mengajukan pertanyaan dan pendapat selama diskusi berlangsung. Di antara mahasiswa ada yang mempertanyakan keharusan Islamisasi ilmu pengetahuan

Karena, menurutnya, ilmu pengetahuan bersumber dari Islam, jadi tidak perlu proses Islamisasi. Mahasiswa yang lain menambahkan, sejarah membuktikan begitu banyak ilmuwan muslim yang menciptakan teori-teori ilmu pengetahuan, yang kemudian diadopsi Barat. Jadi, bukan suatu masalah jika kita menggunakan ilmu pengetahuan dari Barat. Kita hanya tinggal menjustifikasi dengan cara mencantumkan ayat-ayat Alquran dalam penemuan-penemuan ilmiah.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah ilmu pengetahuan kontemporer masih bersumber dari Islam? Atau dengan kata lain, apakah Barat—yang sekarang mendominasi ilmu pengetahuan—menjadikan nilai-nilai Islam sebagai sumber teori-teori ilmu pengetahuan yang mereka ciptakan? Selain itu, mempertanyakan keharusan Islamisasi ilmu pengetahuan secara tidak langsung mengatakan bahwa ilmu pengetahuan itu netral alias bebas nilai (value free). Apakah benar demikian? Atau justru sebaliknya, ilmu pengetahuan itu sarat dengan nilai (value laden)? Hal-hal mendasar tersebut mesti kita kaji secara mendalam.


Istilah “Islamisasi Ilmu Pengetahuan” bukan sesuatu yang baru. Ide ini sudah lama muncul ke permukaan, namun dengan konsep yang berbeda. Para ilmuwan muslim memandang bahwa ilmu pengetahuan modern yang dihasilkan oleh peradaban Barat tidak serta-merta harus diterapkan di dunia Muslim. Ini dikarenakan ilmu itu tidak bebas nilai (value free), akan tetapi sarat dengan nilai (value laden). Nilai-nilai yang terdapat dalam peradaban Barat begitu problematis, tidak sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam, sehingga ilmu yang dilahirkan pun menjadi problematis.

Ilmu sarat dengan nilai karena ilmu adalah produk suatu bangsa, agama, atau peradaban tertentu yang memiliki pandangan hidup (worldview) berbeda dengan yang lain. Artinya, setiap ilmu menunjukkan muatan nilai yang bersumber dari worldview suatu bangsa, agama dan peradaban.

Secara sederhana, worldview atau pandangan hidup bisa diartikan sebagai prinsip hidup atau filsafat hidup. Setiap kepercayaan, bangsa, kebudayaan atau peradaban dan bahkan setiap orang mempunyai pandangan hidup (worldview) masing-masing. Sumber pandangan hidup berasal dari beberapa faktor yang dominan dalam kehidupannya: kebudayaan, filsafat, agama, kepercayaan, tata nilai masyarakat atau lainnya. Faktor-faktor inilah yang menentukan cara pandang dan sikap manusia yang bersangkutan terhadap alam semesta dan apa yang terdapat di dalamnya. Ada yang memandangnya sebatas empiris dan terbatas pada dunia fisik, ada pula yang menjangkau dunia metafisika atau alam di luar kehidupan dunia.

Dari sini, kita mesti memahami bahwa terdapat perbedaan antara pandangan hidup Islam dan pandangan hidup Barat. Perbedaan pandangan tersebut berarti perbedaan konsep-konsep fundamental di dalamnya. Konsep tentang Tuhan, ilmu, manusia, alam, etika dan agama sangat berbeda antara peradaban Islam dan perbedaan Barat.
Pandangan hidup Barat tidak berdasarkan pada Wahyu atau kepercayaan agama karena Barat memiliki hubungan yang tidak harmonis dengan agama. Pandangan hidup yang muncul adalah pandangan hidup sekuler, sehingga ilmu yang dilahirkan pun sekuler pula. Inilah asas ilmu pengetahuan Barat.

Asas keilmuwan yang sekuler berimbas pada aspek epistemologis lainnya; sumber ilmu adalah akal dan panca indera, wahyu dinegasikan; metodologinya spekulasi; dan objeknya terbatas pada realitas empiris. Dan karena akal adalah penentu kriteria kebenaran, akibatnya ilmu pengetahuan serta nilai-nilai etika dan moral terus menerus berubah; subjektif-relatif menjadi pegangan. Pandangan hidup sekuler ini menjadi darah daging pada berbagai aliran pemikiran seperti empirisme, rasionalisme, positivisme, dan masih banyak lagi.

Dalam peradaban Barat, kebenaran fundamental dari agama dipandang sekedar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relatif diterima. Tidak ada satu kepastian. Konsekuensinya, adalah penegasian Tuhan dan Akhirat serta menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia. Manusia akhirnya dituhankan. Jadi, jangankan menjadikan Tuhan sebagai “Ilah”, memandang-Nya sebagai “Rabb” pun tidak sama sekali.

Sebagai contoh, teori evolusi lahir dari pandangan hidup sekuler. Menurut teori ini Tuhan tidak berperan dalam penciptaan. Charles Darwin, salah satu tokoh teori evolusi, berpendapat bahwa asal-mula spesies bukan berasal dari Tuhan, tetapi dari “adaptasi kepada lingkungan”. Semua spesies sebenarnya berasal dari satu nenek moyang yang sama. Spesies menjadi berbeda antara satu dan yang lain disebabkan kondisi-kondisi alam. Contoh lain, ketika mengamati gejala-gejala alam seperti bencana, nilai-nilai agama yang memberikan pesan-pesan moral sama sekali tidak disinggung. Para ilmuwan hanya mengkajinya dari sudut pandang ilmu pengetahuan saja; bahwa alam mempunyai potensi untuk bergerak sendiri.

Selain itu, pemikir Barat memandang bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi akan menjadi sumber kebahagiaan manusia dan menjanjikan dunia yang lebih baik. Namun, hal itu tidak berlangsung lama, sampai kemudian ditemukan juga begitu banyak dampak negatif dari ilmu pengetahuan bagi dunia. Teknologi mutakhir ternyata sangat membahayakan dalam peperangan dan efek samping kimiawi justru merusak lingkungan hidup. Dengan demikian, mimpi orang-orang modernis ini tidaklah berjalan sesuai harapan dan berakhir dengan kehancuran manusia itu sendiri.

Itulah gambaran sederhana problema ilmu pengetahuan kontemporer yang didominasi oleh Barat. Begitu banyak nilai-nilai yang terkandung dalam ilmu pengetahuan kontemporer yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Meskipun tidak dapat dipungkiri, di satu sisi ilmu pengetahuan Barat telah memberikan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia, namun di sisi lain juga telah memberikan ancaman bagi kehidupan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, para ilmuwan muslim berpendapat tidak semua yang datang dari Barat mesti ditolak, dan tidak pula bersikap taken for granted. Artinya, kita mesti mengidentifikasi secara mendalam mana yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, dan mana yang tidak.

Lalu, bagaimana pandangan hidup Islam? Pandangan-hidup Islam (Islamic worldview) adalah visi metafisik Islami mengenai realitas dan kebenaran. Realitas dan kebenaran dalam Islam mencakup yang nampak dan yang tidak nampak (dunia-akhirat), tidak terbatas pada yang empiris. Jadi, aspek dunia dihubungkan dengan aspek akhirat sebagai final. Pandangan-hidup Islam bersumber kepada wahyu yang didukung oleh akal dan intuisi. Dan pandangan-hidup Islam terdiri dari berbagai konsep yang saling terkait (tauhid) seperti konsep Tuhan, wahyu, penciptaan, psikologi manusia, ilmu, agama, nilai, kebaikan dan kebahagiaan.

Dalam Islam, tujuan utama dari ilmu adalah tercapainya ma’rifatullah (mengenal Allah, Sang Pencipta), serta lahirnya manusia bertakwa yang mempunyai hubungan yang positif dengan Pencipta, pribadi, sesama, makhluk lain dan alam semesta. Ketercerabutan “makna” dan peran alam sebagai “ayat” mengakibatkan alam tak lebih dari sekedar objek, tak punya makna dan tak ada nilai spiritual.

Setelah mengetahui bagaimana pandangan hidup Islam secara garis besar, dan pandangan hidup Barat yang menyebabkan ilmu pengetahuan Barat kontemporer menjadi problematis, para ilmuwan muslim berpendapat Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan suatu keharusan. Islamisasi ilmu pengetahuan bukan pekerjaan sederhana seperti labelisasi, dan bukan pula Arabisasi, tapi suatu pekerjaan yang mesti dilakukan dalam tataran konsep.

Terdapat pendekatan islamisasi ilmu pengetahuan yang bersifat instrumentalistik. Dari makna katanya kita sudah bisa menduga bagaimana pendekatan islamisasi ilmu pengetahuan dilakukan. Menurut pandangan ini, sains terutama teknologi sekedar alat untuk mencapai tujuan, tidak memperdulikan sifat dari sains itu sendiri selama ia bermanfaat bagi pemakainya. Jika Barat maju karena sains dan teknologi, maka umat Islam harus menguasai keduanya. Tokohnya adalah al-Afghani, Abduh, Ridho, dan Sayyid Ahmad Khan.

Pendekatan yang populer dan banyak dikembangkan oleh ilmuwan muslim adalah justifikasi; yaitu penemuan ilmiah modern, terutama di bidang ilmu-ilmu alam diberikan justifikasi (pembenaran) melalui ayat Al-Quran maupun Al-Hadits. Metodologinya dengan cara mengukur kebenaran al-Qur’an dengan fakta-fakta objektif dalam sains modern. Tokoh utamanya adalah Maurice Bucaille, kemudian Harun Yahya.

Sayyed Hossen Nasr menggagas konsep sakralisasi ilmu pengetahuan. Konsep ini mengarahkan sains agar mempunyai nilai sakral, karena sains modern bersifat sekular dan jauh dari nilai-nilai spiritualitas. Namun, sakralisasi yang dimaksud bukan Islamisasi, karena menurut pencetus pendekatan ini, pada level esoteris (transenden) semua agama sama, yang berbeda hanya pada level eksoteris (lahiriah, ibadah).

Sementara itu, islamisasi ilmu pengetahuan dilakukan Ismail R. Al-Faruqi dengan cara mengintegrasikan sains Barat dengan ilmu-ilmu Islam. Ide integrasi ini muncul dari pemahaman bahwa terjadi dualisme dalam pendidikan di dunia Islam. Di satu sisi, sistem pendidikan Islam mengalami penyempitan makna dalam berbagai dimensi, sedangkan di sisi yang lain, pendidikan sekular sangat mewarnai pemikiran kaum Muslimin. 

Untuk mengatasi dualisme tersebut, al-Faruqi mencetuskan ide integrasi ilmu pengetahuan, dengan metodologi meredefinisi, mengatur data-data, memikirkan ulang dan menghubungkan data-data, mengevaluasi kembali kesimpulan-kesimpulan, memproyeksikan kembali tujuan-tujuan agar sesuai dengan visi Islam.

Konsep Islamisasi ilmu pengetahuan paling mendasar dan menyentuh akar permasalahan adalah pendekatan paradigma/worldview Islam. Ide ini disampaikan oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Islamisasi ilmu pengetahuan dengan pendekatan ini melibatkan dua proses yang saling terkait, yaitu: pertama, mengisoliir unsur-unsur dan konsep-konsep kunci yang membentuk budaya dan peradaban Barat dari setiap bidang ilmu pengetahuan. Kedua, memasukkan unsur-unsur Islam beserta konsep-konsep kunci dalam setiap bidang dari ilmu pengetahuan saat ini yang relevan.

Demikianlah proses Islamisasi ilmu pengetahuan yang digagas oleh para pakar. Saling pinjam-meminjam antara peradaban adalah wajar. Dan sejarah membuktikan bahwa bangsa yang tertinggal cenderung mengikuti bangsa yang lebih maju. Namun, hal tersebut jangan dilakukan secara taken for granted, karena setiap bangsa, agama dan peradaban mempunyai pandangan hidup yang berbeda dengan yang lain. Dan Islam mempunyai pandangan hidup tersendiri yang khas yang berbeda dengan agama, bangsa dan peradaban lain. Wallahu a’lam bi al-showab.

Referensi

Adnin Armas. Dewesternisasi dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan.

Adi Setia. Tiga Makna Sains Islam: Menuju Pengoperasionalan Islamisasi Sains. Majalah Islamia, Vol. III no.4, 2008.

Budi Hartanto. Lima Konsep Islamisasi sains.

Djamaludin Ancok & Fuat Nashori Suroso. Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Cet.II. 1995.

Hamid Fahmi Zarkasyi. Worldview Sebagai Asas Epistemologi Islam. Majalah Islamia, Thn II No.5, April-Juni 2005.

Hamid Fahmi Zarkasyi. Makna Sains Islam. Majalah Islamia. Vol. III no.4, 2008.



Read more

Senin, 25 April 2011

Esensi Sebuah Filsafat, Bagian 2

0



oleh            : Sena Zaeni Aqwam,


Hayran                  : akan tetapi, dari manakah datangnya kekuatan cinta dan benci?
Syaikh                   : maukah engkau mendiskusikan suatu pendapat yang dibangun diatas fantasi? Empedocles tidak merasa cukup sampai disini saja. Bahkan ia menganggap bahwa jiwa-jiwa tersusun dari empat unsur, meskipunia lebih menekankanunsur udara dan api. Api adalah dewa Zeus, udara adalah dewa Hera, bumi ialah dewa Arcus dan air adalah dewa Nestis, yakni dewa yang menangis, kemudian air matanya berjatuhan layaknya embun yang berjatuhan diatas bumi. Dari sini, Empedocles semakin jauh mengigau, sehingga ia menganggap bahwa kita semua ini adalah dewa-dewa.

Kemudian datang Demokritus sebagai pencipta teori atom. Dialah orang yang pertama kali menguraikan bahwa alam semesta ini terdiri dari bilangan atom-atom yang tiada habisnya. Atom-atom ini serupa, sejenis, azali, abadi, dan bergerak dengan sendirinya didalam kekosongan. Dari gerakannya dan percampurannya, tersusunlah semua yang ada dan terciptalah alam semesta ini. Tentang perbedaan sifat yang ada hal itu timbul karena perbedaan pertalian, susunan dan letak atom-atom didalam benda, serta perbedaan orang yang menelitinya.

Demokritus beralasan bahwa keazalian dan keabadian atom adalah karena segala wujud tidak bisa timbul dari yang bukan wujud, sebagaimana yang wujud tidak mungkin berubah menjadi tidak ada. Seandainya atom itu tidak berada dalam kekosongan, ia tidak mungkin bergerak. Dari sinilah, ia sampai pada kesimpulan bahwa di alam ini, ada tiga realitas dasar yaitu atom, kekosongan dan gerak (les atoms, le vide, le mouvement).



Hayran                  : Bukankah didalam susunan ala material yang terdiri dari atom-atom ini terdapat sesuatu yang jauh dari jangkauan akal?lantas siapakah yang menciptakan atom-atom ini, dan siapa pula yang menggerakkannya?
Syaikh                   : Jawaban atas pertanyaanmu itu tidak dimiliki oleh Demokritus melainkan oleh yang lainnya. Demokritus telah menyimpang dari kebenaran berpikir ketika ia mengira bahwa gerak atom-atom itu merupakan akibat dari “keniscayaan mutlak” yang mendorongnya untuk bergerak dan bertemu, berjalan dan bercampur. Susunan alam ini, termasuk benda-benda mati, tumbuh-tumbuhan dan hewan, hingga ruh-ruh dan dewa-dewa, menurut pendapatnya tersusun dari atom-atom yang berjalan dengan “keniscayaan mutlak”.


Sesudah Demokritus, datanglah Anaxagoras yang menyerang ide-ide Demokritus tentang “keniscayaan mutlak” dan meremehkannya pula. Ia mengatakan –seolah-olah ia seorang mukmin yang agung- bahwa mustahil kekuatan “keniscayaan mutlak” itu mampu menciptakan keindahan dan tata aturan yang Nampak jelas pada alam ini. Kekuatan tersebut tidak menghasilkan apapun melainkan hanya kekacauan. Zat yang menggerakkan benda tidak lain adalah akal, kesadaran dan pandangan yang bijak.

Hayran                  : Ini sesuatu yang agung sekali. Apakah mungkin Anaxagoras, dengan kata-katanya itu, bermaksud menetapkan eksistensi Allah?
Syaikh                   : aku tidak tahu,Hayran. Sebab, petunjuk Allah melalui lisan para rosul-Nya adalah terlebih dahulu daripada orang Yunani dan filsafat mereka. Akan tetapi, menurut pikiranku, lebih tepat untuk dikatakan, bahwa sebagian besar filsafat klasik di Mesir, di Tiongkok, di India, merupakan sisa-sisa ajaran-ajaran kenabian yang telah dilupakan oleh sejarah. Mereka yang mempunyai pemikiran ini kemudian dimasukkan kedalam kelompok filosof. Boleh jadi diantara mereka adalah termasuk para nabi, atau setidaknya, pengikut ajaran nabi. Yang jelas dari kata-kata Anaxagoras ini, ia masih berputar-putar di sekitar masalah keimanan ini ketika ia menyadari –dengan akalnya yang sehat- bahwa susunan yang teratur ini tidak mungkin timbul kecuali dari “akal yang bijaksana”. Oleh karena itu, Anaxagoras dianggap sebagai orang pertama yang membuka pintu filsafat spiritualisme dan datang dengan pikiran yang masih mengembara di sekitar kebenaran. Inilah yang membuat Aristoteles mengatakan bahwa Anaxagoras adalah satu-satunya orang yang tetap menjaga kesadaran akalnya di hadapan “igauan” orang-rang sebelumnya.
Hayran                  : Alhamdulillah, kita telah sampai kepada tempat munculnya filsafat yang lebih tinggi daripada sekedar igauan.
Syaikh                   : Memang, filsafat berjalan kea rah kebenaran, meskipun dengan lengkah yang lambat. Kadang-kadang ia dirintangi oleh kaum skeptic seperti, misalnya orang-orang sofis. Dengan gaya perdebatan mereka yang menakjubkan, yang nyaris mematikan semua pemikiran yang sehat.
Hayran                  : saya mendengar kata sofisme berarti perdebatan yang menipu.
Syaikh                   : Memang, dari kata sofis timbullah kata sofisme. Sofisme adalah suatu metode yang ditempuh untuk memutar balikkan kebenaran oleh mereka yang pandai mengajari manusia melalui perdebatan bohong. Kata sofis, ddidalam bahasa Yunani, berarti guru dalam ilmu terapan dan ilmu murni. Kemudian kata ini dipakai untuk menyebut guru-guru tersebut. Dari kata ini pula orang-orang Arab mengambil istilah safsathah.
………………………………………………………………………………………………………………………………………… Hayran, disini engkau akan melihat igauan itu begitu lemah dan rendah, sehingga tidak pantas dimasukkan ke dalam pembahasan filsafat, meskipun Giorgias telah berjasa karena ia telah melahirkan Socrates.
Hayran                  :Bagaimana igauan itu dapat melahirkan Socrates yang bijak?
Syaikh                   : Socrates adalah orang yang berjasa meletakkan dasar dan membangun filsafat pengetahuan (epistemologi). Karena jasanya, epistemology masih menawan akal yang sehat sejak lebih 2000 tahun yang lalu hingga masa kita sekarang ini, betapapun orang ramai membicarakannya, Hayran. Tujuan Socrates dalam filsafat tiada lain adalah untuk meletakkan kaidah-kaidah pengetahuan diatas rasio dan menguatkan dasar keutamaan pada hati orang banyak diatas landasan kebenaran yang tidak bisa diragukan lagi. Filosof yang suci ini melihat bahwa moral manusia pada masanya telah bobrok gara-gara orang Sofis yang telah mengingkari rasio, kebenaran, keyakinan dan keutamaan-keutamaan moral. Mereka telah mengembalikan dasar-dasar pengetahuan seluruhnya kepada perasaan (persepsi indra). Oleh karena itulah, Socrates berusaha untuk mengembalikan dasar-dasar pengetahuan kepada rasio yang keputusan-keputusannya disepakati oleh semua orang tanpa ada perselisihan. Dengan itu, definisi keutamaan bisa dibakukan.

Socrates berpendapat, adalah tidak rasional apabila pengetahuan bisa diperoleh hanya dengan indra, karena indra berbeda-beda berdasarkan perbedaan individu, suasana dan keadaan. Oleh karena itu, kita harus mencari sumber yang pasti untuk pengetahuan yang tidak diperselisihkan orang selamanya. Apabila kita memperhatikan pengetahuan kita saat ini, kita melihat bahwa pengetahuan itu meliputi hal-hal yang particular yang datang pada kita melalui metode pengindraan, dan hal-hal universal yang tidak mempunyai wujud diluar pikiran yang bisa diindra.

Untuk itu, Socrates membuat satu contoh tentang makna spesies. Makna spesies dapat diketahui oleh akal kita dengan cara mengumpulkan sifat-sifat yang sama yang diiliki oleh setiap spesies dan meninggalkan sifat-sifat yang menonjol yang tampak pada sebagian spesies. Selanjutnya, Socrates mengatakan bahwa pengetahuan ini, yaitu pengetahuan tentang sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh indra dan tidak mempunyai wujud yang nyata diluar pikiran, adalah pengetahuan universal yang keberadaannya tidak diragukan lagi oleh seorang yang berakal, yakni bahwa ia semata-mata merupakan hasil dari aktivitas rasio.pengetahuan universal dan rasional inilah yang seharusnya menjadi dasar pengetahuan. Oleh karena itu, seandainya objek indra yang particular berbeda-beda menurut perbedaan individu, suasana, keadaan, dan konteksnya, berarti akal –sebagai sesuatu yang umum dan dimilki bersama oleh semua orangtidak mungkin berbeda-beda selama akal itu sehat. Dengan pengetahuan yang rasional dan universal ini, kita dapat membuat standarisasi yang benar dan permanen tentang kebenaran, dan juga mengetahui apa yang dimaksud dengan keutamaan.

Sesudah Socrates,, datanglah muridnya, yaitu Plato yang terkenal itu. Ia menguatkan teori pengetahuan yang dibuat oleh gurunya itu dan menambahkan argumentasinya sendiri. Aka tetapi, kita tidak tahu, mengapa ia meletakkan pengetahuan ini diatas dasar sejumlah ide. Lantas apa pula yang dimaksud dengan ide-ide itu?

Plato berpendapat bahwa makna yang universal bukanlah sesuatu yang bisa dicapai oleh indra, melainkan oleh akal semata. Keindahan dan keburukan, misalnya, adalah dua hal yang dapat kita ketahui pada perkara yang banyak sekali, yang berbeda-beda gejala dan bentuknya. Lalu, apakah yang menyebabkan kita mendefinisikan bahwa semua perkara ini berkaitan dengan keindahan dan perkara yang lain berkaitan dengan keburukan? Bukan indra kita yang mengetahui keterkaitan itu, melainkan rasio kitalah yang empertemukan dan memperbandingkan perkara-perkara didalam  hal keindahan, sehingga ia mengetahui bahwa pada perkara-perkara itu terdapat keindahan. Namun, agar rasio dapat mempertemukan dan memperbandingkan perkara-perkara ini, ia mesti mempunyai suatu ide yang asli dan orisinil tentang keindahan dan keburukan. Seandainya kita mengatakan bahwa ide itu berasal dari kreasi akal kita, berarti kita mundur ke belakang mengikuti orang-orang Sofis yang mengukur kebenaran berdasarkan standarisasi individu murni (subjektivisme). Jadi, kita harus mengatakan bahwa pengertian universal itu mempunyai wujud hakiki dibaik akal pikiran kita. Inilah yang dimaksud oleh Plato dengan ide (les idees).

Ia juga mengatakan bahwa jiwa-jiwa kita, sebelum menitis kedalam jasad, telah hidup di dunia ide. Ketika jiwa telah menyatu kedalam jasad, ia agak melupakan dunia ide. Akan tetapi  ia meletakkan pandangannya tentang jiwa berdasarkan pengertian yang universal, seperti pengertian keindahan dan keburukan, engkau akan teringat terhadap contoh yang dikemukakannya melalui jalan perbandingan, engkaupun akan mengetahui kebaikan dan keburukan pada suatu perkara. Demikianlah keadaan semua pengertian universal seperti keutamaan, keadila, kebaikan, dan lain-lain. Dengan demikian, ilmu ialah upaya mengingat-ingat ide, sedangkan kebodohan ialah keadaan lupa terhadap ide. Sementara pengalaman-pengalaman didalam kehidupan dunia, tidak lain merupakan wasilah untuk membangunkan dan mengingatkan akal terhadap apa yang pernah diketahui sebelumnya di dunia ide.


Hayran                  : Akan tetapi Syaikh, apa yang dimaksud dengan dunia ide itu dan bagaimana hakikatnya?
Syaikh                   : Adalah hakmu untuk merasa heran, sebagaimana juga dialami oleh Aristoteles yang hidup sebelumnya. Plato menguraikan dunia ide tersebut dengan sifat-sifat yang banyak sekali sehingga dunia ide itu tidak dapat dimengerti dan tidak rasional, kecuali apabila diiehendakinya dengan ide tersebut adalah segala perkara yang ada didalam ilmu Tuhan. Aku menduganya demikian, Hayran. Sebab, Plato mengatakan bahwa ide terseut bukanlah materi, melainkan pengertian yang abstrak. Unsur-unsur dan Unsur-unsur dan keberadaannya berasal dari dirinya, bukan dari hal-hal diluarnya. Dunia ide menjadi dasar segala sesuatu. Ia tidak bersandar pada suatu perkara yang lain, tetapi yang lain itu bersandar padanya. Ide bersifat langgeng, permanen,abadi, diam, sempurna dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Tidakkah engkau memahami sifat-sifat tersebut? Artinya, bahwa Plato hamper menghendaki perkara-perkara yang ada di dalam ilmu Allah?
Hayran                  : Apakah Plato mempercayai eksistensi Allah?
Syaikh                   : Plato termasuk salah seorang filosof pertama yang berbicara tentang eksistensi Tuhan, yakni bahwa Tuhan adalah Pencipta alam semesta dan Yang Mengaturnya. Untuk itu, Plato mengemukakan bukti-bukti. Diantaranya yang terpenting ialah bukti tentang kerapian. Ia berpendapat bahwa alam ini merupakan suatu tanda keindahan dan kerapian. Selamanya, ala mini tidak mungkin terjadi secara kebetulan, melainkan ia adalah ciptaan Zat Yang Berakal, Mahasempurna, Pemilik kebaikan, dan Pengatur segala sesuatu berdasarkan suatu maksud dan hikmah tertentu.

Akan tetapi, ketika Plato hendak menggambarkan dan melukiskan bagaimana Tuhan membuat alam ini, akalnya terbentur pada suatu problem yang biasa kita jumpai. Ia tidak mampu membayangkan bagaimana makhluk tercipta dari ketiadaan (cretio ex nihilo). Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa semua makhluk tersusun dari materi dan bentuk (forme). Bentuk inilah yang membuat materi itu menjadi benda tertentu. Bentuk ini pula yang merupakan akibat dari ide-ide yang member corak dan bentuk tertentu pada sesuatu tersebut. Jadi, sesuatu, sebelum mengambil bentuk berdasarkan idenya, sehingga ia memperoleh hakikat wujud setelah asalnya tidak ada. Zat yang memberikan corak yang sesuai dengan idenya sehingga materi itu menemukan bentuknya –setelah sebelumnya tidak ada- itulah Tuhan.
Hayran                  : saya tidak mengerti, mengapa benda itu tidak ada sebelum mengambil bentuknya?
Syaikh                   : engkau tidak mengerti, demikian juga aku. Plato sendiri, dengan rasionya yang lurus dan sempurna, juga tidak mengerti, bagaimana mungkin sesuatu itu merupakan sebuah materi dan ketiadaan pada saat bersamaan? Akan tetapi, rasio Plato yang terlalu memaksakan diripun akhirnya terjerumus kadalam anggapan yang salah tersebut, karena tidak sanggup menggambarkan cretio ex nihilo (penciptaan dari ketiadaan murni). Ketidakberdayaan ini timbul dari analogi yang menipu dan menguasai alam pikiran kita yang tidak biasa menggambarkan terjadinya sesuatu dari ketiadaan. Akal kita terbiasa melihat sesuatu yang selalu berubah-ubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain, sehingga bentuk tersebut divonis sebagai sesuatu yang baru.

Insya Allah bersambung pada dialog selanjutnya yang akan membahas tentang Aristoteles

Read more

Esensi Sebuah Filsafat, bagian 1

0

Oleh      : Sena Zaeni Aqwam


Syaikh Al-mauzun berkata:…………..para filosof mendefinisikan bahwa “filsafat adalah upaya menyelidiki hakikat semua yang ada,” atau “filsafat ialah ilmu tentang prinsip yang paling mendasar” dan lain-lain. Sementara aku sendiri lebih suka mendefinisikannya sebagai  “upaya rasio untuk mengetahui hakikat prinsip-prinsip yang paling mendasar.” Kelak engkau akan mengetahui kebenaran definisi tersebut.
……………


Kemudian Syaikh Al-Mauzun mengeluarkan buku besar dari bawah bantalnya dan mengajak Hayran untuk memulai kembali dialog mereka.
Hayran                  : Buku apa itu, Syaikh?
Syaikh                   : Buku ini berbicara kepada kita tentang para pemikir yang mencari Allah.
Hayran                  : Apa judulnya?
Syaikh                   : Para Filosof Yunani.
Hayran                  : Bagaimana Syaikh bisa mengatakan bahwa buku tersebut menceritakan para pemikir yang mencari Allah?
Syaikh                   : Memang benar, buku tersebut membicarakan para pemikir yang mencari Tuhan Yang Sebenarnya (Allah). Bukankah sudah aku katakana bahwa esensi filsafat adalah mencari TUHAN?
Hayran                  : Saya telah membaca sebagian pemikiran para filosof Yunani klasik, ternyata mereka adalah orang-orang kafir.
Syaikh                   : Memang benar, mereka kafir kepada dewa-dewa Yunani. Namun, tentang Tuhan yang Sebenarnya, mereka masih mencari-Nya. Ada yang mendapat petunjuk, ada yang akalnya tidak sanggup menggambarkan-Nya, dan ada pula yang sesat karena tidak mampu memikirkan-Nya. 


Nanti, engkau akan bahwa pemikiran-pemikiran mereka, meskipun menunjukkan kecerdasan dan keikhlasan didalam pembahasan, namun masing-masing mempunyai pandangan yang meremehkan dan meragukan alam semesta. Di dalam pemikiran mereka, masih terdapat kebenaran yang terletak ditengah-tengah kejanggalan,  ketidakjelasan,  pertentangan pikiran,  keragu-raguan dan pemutar-balikkan kebenaran.


Thales memulai pemikirannya dengan keruwetan berpikir yang menipu, yang kemudian melekat pada rasio para filosof, bahkan juga pada semua orang.  Ia tidak percaya prinsip cretio ex nihilo, yakni bahwu  “  alam tidak mungkin tercipta dari ketiadaan mutlak.”setiap permulaan pada hakikatnya adalah perubahan. Oleh karena itu, mesti ada materi pertama yang bersifat azaliyang menjadi sebab timbulnya semua eksistensi. Materi yang azali tersebut adalah air. Apa yang melatar-belakangi Thales memilih air?


Ketika membahas tentang berbagai eksistensi, ia menemukan setiap materi memiliki potensi untuk berubah dan berganti rupa. Ia menemukan bahwa air itu cair. Kadang-kadang air itu menjadi salju yang  tebal;  kadang-kadang menjadi uap yang halus; dan kemudian kembali lagi menjadi air. Thales melihat bahwa basah menjadi syarat bagi adanya kehidupan. Oleh karena itu, ia yakin bahwa air yang memiliki karakteristik tertentu merupakan asal dari semua eksistensi.


Akan tetapi Anaximenes berpendapat bahwa udara lebih lunak dan lebih mudah berganti daripada air. Udara apabila dingin, ia mencair, dan apabila panas ia menguap. Kemudian ia bertambah kerenggangannya, dan akhirnya kembali menjadi udara.  Anaximenes menganggap bahwa bika kerenggangan udara semakin bertambah, ia tentu akan menjadi api. Dari api itu, terciptalah matahari dan bulan. Apabila semakin menebal, udara iu menjadi awan, dan kemudian menjasi air. Apabila kepadatannya semakin bertambah, ia akan menjadi pasir dan bebatuan.  Anaximenes juga berpendapat bahwa udara adalah sesuatu yang niscaya bagi kehidupan.


Sedangkan Anaximender mengatakan bahwa sesungguhnya pendapat  tentang udara sebagai asal-muasal, tidak relevan dengan sifat-sifat semua yang ada. Air mempunyai sifat-sifat tersendiri, begitu juga udara, serta semua eksistensi yang ada. Oleh karena itu, tidak masuk akal, apabila semua yang ada mengandung sifat-sifat yang berbeda. Yang berbeda-beda ini mesti timbul dari asal yang mempunyai sifat-sifat khusus yang berbeda dari semua yang ada. Dari sinilah, akal Anaximender yang sehat mengharuskan dirinya untuk berkata bahwa asal uasal semua yang ada adalah materi yang tidak berbentuk, tidak berkesudahan dan tidak berbatas.


Hayran                  : Saya akui pembahasan Anaximender menunjukkan adanya pemikiran yang mendalam.  Akan tetapi, apa perlinya disebut materi, apabila materi itu tidak berbentuk, tidak berkesudahan dan tidak berbatas?
Syaikh                   : dari sini, engkau akan melihat kebenaran perkataanku tadi. Para filosof klasik dapat dimaafkan ketika mereka mengingkari dewa-dewa Yunani. Mereka juga dapat dibenarkan apabila rasio mereka yang bebas berusaha mencari asal mula alam. Mereka tidak menisbatkan asal mula alam pada dewa-dewa yang memiliki moral seperti manusia tersebut. Rasio mereka tidak mempercayaibahwa alam semesta ini ciptaan dewa-dewa yang rakus, pembohong, pemabuk, penipu dan cabul. Secara tidak disadari, mereka sedang mencari Tuhan Yang Sebenarnya.


Kemudian, datang Phytagoras yang tidak puas dengan cara tersebut karena berisi penafsiran alam dengan cara naturalis. Ia menempuh metode matematis. Ia berkata bahwa tidak ada sifat yang mencakup alam kecuali sifat angka (le nombre). 


Kita dapat membayangkan sesuatu tanpa warna, rasa,  bau atau  volume. Tapi kita tidak bisa membayangkan sesuatu yang tidak menerima angka. Jadi, angka adalah satu-satunya sifat yang dimiliki bersama oleh semua yang ada di alam. Angka itulah satu-satunya yang pantas menjadi asal muasal alam, sebab semua yang ada di alam merupakan gambaran angka yang berulang-ulang. Angka itu sendiri merupakan gambaran pengulangan dari satu. Jadi, satu itulah yang menjadi asal muasal alam semesta ini, menjadi sebab keberadaannya dan merupakan hakikatnya.


Pemikiran-pemikiran abstrak ini tenggelam dalam fantasi. Namun, itu semua menunjukkan adanya upaya-upaya manusia untuk sampai pad aide tentang Tuhan Yang Sebenarnya, Tuhan Yang terlepas dari sifat-sifat materi, baik yang dirasakan maupun yang tidak dirasakan oleh mereka.


Hayran                  : Apakah di kalangan orang Yunani klasik terdapat pemikiran tentang eksistensi Tuhan (lain) yang bukan dewa-dewa mereka?
Syaikh                   : Bumi ini tidak pernah sunyi dari pemikiran tentang eksistensi Tuhan Yang sebenarnya sejak manusia menjadi manusia. Dengan akalnya yang mampu berpikir, manusia menjadi makhluk yang berbeda dengan yang lainnya.
Xenophanes, salah seorang filosof Yunani klasik yang mengungguli orang-orang lain pada masanya, membuang jauh-jauh sejumlah mitos Yunani yang berisi gagasan tentang bersatunya jasad manusia dengan Tuhan (antropomorphisme). Ia mencemooh tuhan-tuhan mereka yang makan, minum, beranak dan mati. Ia mengatakan bahwa manusia sendirilah yang mengada-adakan tuhan dan melukiskannya seperti bentuk mereka. Seandainya sapi, singa, atau kuda bisa melukis, tentu mereka akan melukiskan tuhan seperti bentuk mereka. Tidak. Sama sekali tidak demikian! Tidak ada tuhan selain yang satu;eksistensi yang paling tinggi;yang tidak tersusun seperti bentuk kita; dan tidak berpikir seperti kita berpikir. Akan tetapi seluruhnya , ia lihat, ia dengar dan segalanya ia pikirkan.


Sedangkan untuk mengetahui hakikat Tuhan Yang MahaEsa, Xenophanes menganggapnya sebagai sesuatu hal yang mustahil bagi akal kita. Ia mengucapkan perkataannya yang melompat jauh ke muka-2000 tahun dari masanya. Di dalam sejarah metafisika, tidak ada seorangpun yang sanggup mengetahui Tuhan dengan teliti, meskipun-andaikata secara kebetulan di dalam menyifati Tuhan- ia menyatakan suatu kebenaran. Ia sendiri tidak mengetahui bahwa ia berkata yang benar.
Hayran                  : dari ucapan Syaikh yang mengatakan bahwa Xenophanes, dengan kata-katanya itu, telah melompat 2000 tahun dari masanya, saya bisa memahami bahwa filsafat telah sampai pada keyakinan akan eksistensi Tuhan. Jika demikian persoalannya, saya berharap Syaikh membebaskan diri dan jiwa saya dari kebodohan orang-orang dahulu, yang sebagiannya pernah say abaca ketika di Peshawar.  Sebaliknya, saya berharap agar Syaikh membawa saya pada filsafat modern. Syaikh: Aku telah berwasiat sebelumnya agar engkau bersabar. Sekarang aku ulangi wasiat itu untukmu, karena tidak ada faedahnya sama sekali untuk membawamu kepada kesimpulan yang telah dicapai oleh filsafat yang selama ini membingungkan pikiranmu, tanpa mengetahui dahulu apa yang dikatakan oleh filsafat klasik dan orang-orang abad pertengahan. Boleh jadi pendapat orang-orang modern tidak menarik perhatianmu, dan pada saat yang sama, datang orang yang meniupkan kepadamu bahwa kebenaran itu hanya milik orang-orang dahulu, sehingga engkau kembali ragu dan bimbang.


Hayran, engkau tidak akan dapat memahami secara sempurna orang-orang modern, kecuali jika engkau mengetahui orang-orang sebelum mereka. Oleh karena itu, hendaklah engkau bersabar!


Hayran                  : Sekarang saya telah memahami hikmah dari keterikatan Syaikh diantara rangkaian pemikiran itu. Saya berharap Syaikh tidak memarahi saya.
Syaikh                   : Selanjutnya, datang Parmenides yang menganggap bahwa air, udara dan bilangan atau sesuatu yang lain, tidak pantas menjadi asal muasal semua yang ada. Sebab semua yang ada senantiasa berubah. Sedangkan yang kita ketahui, hanya sifat-sifat lahir yang berubah. Semua sifat-sifat ini mengalami perubahan dan kehancuran kecuali satu sifat saja, yaitu sifat wujud (l’etre). Wujud yang abadi inilah yang dapat kita jadikan asal muasal semua yang ada.
Hayran                  : Apakah yang dimaksud sifat wujud itu?
Syaikh                   : Wujud disini, yang dimaksud Parmenides, adalah wujud yang azali, yang tidak berubah-rubah dan tidak hancur. Ia tidak mempunyai masa lampau dan masa depan. Akan tetapi ia meliputi keazalian dan keabadian. Ia tidak bergerak dan tidak dapat dibagi-bagi. Sebab, gerak adalah gambaran dari adanya perubahan. Dengan demikian, ia sempurna dan tidak ada wujud lain dibelakangnya.
Hayran                  : Bagaimana wujud itu bisa terbebas dari gerak dan perubahan, padahal kita melihat, semua yang ada ini bergerak dan berubah?
Syaikh                   : Parmenides tidak menganggap bahwa yang kita lihat dan kita rasakan ini adalah bagian dari wujud. Akan tetapi, ia memandangnnya sebagai gejala atau fantasi (apparences), karena ia hancur dan berubah-ubah. Sedangkan wujud adalah abadi. Sebaliknya, perubahan itu sendiri mengharuskan berkumpulnya wujud dan tanpa wujud. Hal ini adalah mustahil.
Hayran                  : Saya beum paham. Mungkinkah Parmenides hendak berkata tentang panteisme?
Syaikh                   : Begitulah, Hayran. Ia membuat abstraksi didalam pikirannya. Sebab, sebenarnya para filosof tersebut tidak ingin mengingkari wujud. Mereka hanya berusaha mencari yang asal dan sempurna, yang tidak berubah-ubah; yang terlepas dari sifat-sifat wujud, dan yang pantas menjadi penciptanya. Menurutku, ini adalah upaya pencarian Tuhan, meskipun mereka tidak menghendaki dan merasakannya.


Sesudah Parmenides, datanglah muridnya, Milissus. Ia melengkapi pendapat gurunya yang menyatakan wujud itu tidak berakhir, dan ia identik dengan “kehidupan yang berakal”. Apabila engkau mendengarkan pembuktiaannya yang menyatakan bahwa wujud itu azali,  abadi dan tidak berakhir, tidak pula bergerak, serta ia mempunyai “kehidupan yang berakal”, tentu engkau sependapat denganku bahwa pikiran para filosof, disadari atau tidak, senantiasa mencari Tuhan Yang Maha Esa.


Milissus mengatakan bahwa setiap yang baru pasti ada permulaannya. Sedangkan zat yang wujud itu tidaklah baru. Sebab, seandainya baru, tentu berasal dari zat yang tidak wujud. Jadi, yang wujud tersebut  tidak ada permulaannya. Apa yang tidak ada permulaannya, tidak pula mempunyai akhir. Karena ia tidak berakhir, ia tidak pula bergerak, sebab tidak ada lagi tempat sesudahnya untuk bergerak menuju tempat itu. Ia juga tidak berubah-ubah, karena kalau ia berubah-ubah, berarti ia menjadi lebih dari satu. Oleh karena itu, ia adalah esa, azali, abadi, hidup, berakal, dan tidak berubah-ubah. Coba engkau renungkan, Hayran.


Setelah itu datanglah Heraclitus yang pemikirannya senantiasa skeptis; berada diantara corak tendensi abstraktif dan tendensi natural. Ia mengatakan bahwa segala sesuatu itu, seperti yang kita lihat, senantiasa berubah, berganti-ganti secara terus menerus, dan tidak pernah tetap di dalam suatu keadaan; meskipun hanya sebentar saja. Ketetapan relative yang selama ini kita saksikan adalah suatu khayalan saja sebagai akibat ketidakmampuan kita untuk melihat adanya perubahan itu. Dari semua itu, ia berkesimpulan bahwa suatu benda, antara yang wujud dan yang bukan wujud itu adalah akhir yang menjadi hakikat wujud.


Namun, Heraclitus tidak selalu bersandar pada pendapat tersebut didalam menfsirkan alam semesta ini. Ia bahkan kembali lagi kepada tendensi natural klasik. Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa asal muasal alam semesta ini adalah api yang kemudian berubah menjadi udara, dari udara berubah menjadi air, dari air berubah menjadi kering, dari kering ini kembali lagi menjadi air, udara dan api. Demikianlah, seolah-olah ia melihat kehidupan binatang yang disertai dengan panas, lalu ia mengira bahwa ruh itu sendiri ibarat api.


Kemudian, datanglah Empedocles, filosof “empat unsur”. Awalnya ia hendak mengkompromikan pendapat Parmenides dan Heraclitus. Ia mengatakan bahwa wujud ini terdiri dari atom-atom. Apa yang dikatakan oleh Parmenides tentang wujud, bahwa ia tidak bertambah dan berkurang, adalah sesuai dengan atom-atom. Sedangkan apa yang dikatakan oleh Heraclitus tentang akhir kejadian yang terus menerus, membenarkan adanya gambaran yang berubah pada benda-benda. Dari sini, Empodocles ingin mengambil jalan tengah diantara mereka yang menyatakan bahwa alam ini terbentuk dari suatu materi yang mengalami perubahan seperti air, udara dan api, dengan mereka yang mengatakan bahwa materi dari yang wujud itu tidak berubah-ubah. Oleh karena itulah ia membuat teori empat unsur yang terus dipertahankan hingga abad ke-18.


Ia mengira bahwa wujud ini merupakan kumpulan dari empat unsur yaitu tanah, api, air dan udara. Semua yang ada adalah perpaduan dari keempat unsur ini. Perbedaan yang ada padanya hanyalah perbedaan didalam perbandingan unsur-unsurnya.


Sampai disini, Empodocles tampak sejalan dengan sains pada masanya. Bahkan ia mendahului masanya dalam meletakkan teori tentang atom. Akan tetapi, ketika ia berbicara tentang rahasia yang menggerakkan atom-atom tersebut, awalnya ia berpijak pada pemikiran yang benar, tetapi kemudian berakhir dengan suatu khayalan yang hampa. Ketika ia mengatakan bahwa bahan alam semesta ini adalah swesuatu yang tidak bernyawa, tidak pula mempunyai gerakan yang timbul dari dirinya, serta harus menerima kenyataan bahwa gerakannya berasal dari kekuatan yang berada diluarnya, maka kita melihat bahwa ia telah condong pada fantasi.


Ia mengatakan bahwa gerakan benda adalah gambaran dari pertemuan dan perpisahan. Keduanya adalah suatu hal yang berlawanan yang tidak timbul dari satu kekuatan. Bahkan ia berasal dari dua kekuatan, yang satu mendorong, yang lainnya menarik. Dua kekuatan tersebut adalah cinta dan benci (l’amour et la discorde). Keempat unsur tersebut bertemu karena adanya kekuatan cinta. Lalu ia dipisahkan oleh kekuatan benci, sehingga menjadi empat unsur. Kemudian cinta mengumpulkan kekuatannya dan mulai mengadaka pemaduan antara empat unsur tersebut, sehingga terbentuklah semua yang ada dan yang kita saksikan.

Read more

Keimanan Albert Einstein

1

Oleh         : Sena Zaeni Aqwam


Bismillahirrohmanirrohim,
           
Jika orang-orang ditanya perihal apakah Einstein itu? Pasti semua orang akan mengoreksi pertanyaan itu menjadi siapakah Einstein itu? Lantas jawabannya? Pasti orang-orang itu akan langsung menjawab bahwa Einstein itu adalah seorang yang jenius, tepatnya ilmuwan yang jenius.


Maka jawaban mereka itu sungguhlah benar bagi timbangan manusia. Lantas bagaimana kejeniusan Einstein itu sehingga ia dapat mendapat tempat dalam ingatan banyak manusia? Semua orang pasti tahu akan hal itu, dan hal itulah yang akan dibahas dalam tulisan ini. 


Einstein adalah seorang ilmuwan yang tersohor yang telah mengemukakan rumusannya mengenai energi yaitu dengan rumusan E=mc2, dengan E simbol dari pada Energi, M symbol daripada massa, dan C symbol daripada cahaya –setidaknya itu yang aku tahu. Bahkan poster Einstein yang terpampang di kamar orang-orang itu senantiasa disertai dengan rumusan diatas. Sebegitu terkenalkah Einstein? Lantas, apa lagi selain hal tersebut yang membuatnya bisa dikenal?     
           
Einstein mengungkapkan kepada dunia bahwa “Massa dan energi itu adalah tunggal.” Kebenaran pendapatnya ini terbukti ketika atom dimungkinkan untuk dibelah dan massanya dialihkan menjadi energi. Jika demikian adanya, maka tidak ada penghalang jika sewaktu-waktu dapat dibuktikan bahwa energi pun bisa dirubah menjadi massa. Hal ini memungkinkan kita mengetahui akan rahasia kisah pemindahan singgasana Ratu Balqis yang secepat cahaya bisa berpindah dari jarak 3000 km, ataupun memungkinkah kita mengetahui rahasia perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad.               
          
Selain teori-teori Einstein diatas yang membuatnya menjadi dikenal banyak ilmuwan, ada satu lagi teori Einstein yang membuatnya dikenal yaitu teori relativitas. Secara sepintas jika dipahami, teori ini sepertinya adalah sebuah teori yang membingungkan karena ia menjungkirbalikkan sejumlah prinsip akal dan Aksioma yang ada di kepala, ketika teori itu mengingkari bahwa garis lurus adalah identik dengan garis yang paling pendek diantara dua titik, dan ketika teori itu mengemukakan bahwa dimensi itu tidak hanya tiga, melainkan empat, dan salah satunya adalah waktu. 


Anggapan itu berlaku bagi orang yang mengetahui teori itu dari surat kabar atau dari banyak orang. Tapi apakah memungkinkan bagi orang sekaliber Einstein untuk menentang akal-pikirannya sendiri dan mengingkari sejumlah Aksioma yang ada? Sebetulnya, Einstein tidaklah menjungkirbalikkan pemikiran, tetapi Einstein hanya mengoreksi sebagian aspeknya.  


Ia pun tidak mengingkari berbagai Aksioma yang ada, tetapi mengingatkan kita supaya kita memasukkan perhitungan tempat, waktu, dan gerakan yang di dalamnya terdapat sesuatu yang terindra- ke dalam pemahaman dan kesadaran kita tentang Aksioma itu. Teori relativitas, ketika mengatakan bahwa garis lurus bukanlah garis terpendek diantara dua titik, di dalam perhitungannya, menganggap bahwa lengkungan bumi itu yang kita gambarkan ada garis lurus da atasnya lurus.
          
Persoalannya tidak demikian, karena garis tersebut memang melengkung dan berkelok-kelok mengikuti permukaan bumi.  Jadi tidak mungkin kita menggambarkan bahwa garis yang paling pendek antara kota New York dan kota Paris, misalnya, adalah garis lurus. 


Selama kita menganalogikannya diatas permukaan bumi, hal itu tidaklah relevan, karena kenyataannya permukaan bumi itu tidak lurus, tetapi melengkung. Akan tetapi jika kita menggambarkan bahwa garis yang paling pendek antara kota New York dan kota Paris adalah garis lurus, dengan menganalogikan jarak tersebut di dalam perut bumi, maka hukum Aksioma yang menentukan bahwa garis lurus adalah garis terpendek diantara dua titik adalah benar.
               
           Ketika teori relativitas mengatakan bahwa dimensi-dimensi itu tidak hanya tiga, melainkan empat dan salah satunya adalah waktu, maka teori tersebut berlaku pada benda yang bergerak dan bukan pada benda yang tetap dan diam, serta berlaku pada tempat dan waktu dimana gerakan itu terjadi dan manusia yang mengamatinya berdiri diantara keduanya. Secara ilmiah telah ditetapkan bahwa:
          
1. Tidak ada benda di alam semesta ini – mulai dari atom hingga galaksi - selain di dalam gerakan yang terus menerus dengan kecepatan yang berbeda-beda.            
       
2. Benda-benda itu mengkerut secara relatif pada garis arah kecepatannya sehingga pengkerutan itu dapat bertambah dan juga berkurang sesuai dengan kecepatannya.   
         
3. Massa benda juga merupakan sifat yang relatif dan nilainya bertambah seiring dengan bertambahnya kecepatan benda sehingga diantara massa dan energi terdapat kesesuaian yang mutlak, artinya energi tersebut sama dengan massa jika dikalikan dengan bilangan tetap yaitu empat kali kecepatan cahaya.               
          
4. Kesesuaian yang tetap antara energi dan massa atau kekuatan dan benda ini, menjadikan keduanya menjadi sesuatu yang tunggal, setiap kali massa itu bertambah, energi pun ikut bertambah, dan setiap kali energi itu berkurang, maka berkurang juga massanya, sehingga dengan hal inilah benda itu bisa mengalami kemusnahan.       
        
5. Waktu itu sendiri akan dipahami secara berbeda oleh dua orang yang masing-masingnya berada di suatu benda angkasa yang berbeda, karena adanya perbedaan kecepatan diantara masing-masing benda angkasa tersebut. Sebab, waktu itu, sebagaimana yang kita ketahui, merupakan gerakan yang saling menimpa, sehingga analogi waktu juga bersifat nisbi.
                     
Dari kebenaran-kebanaran ilmiah diatas, dapat ditarik kesimpulan ilmiah, diantaranya ialah bahwa penggambaran kita tentang dimensi benda-benda yang bergerak tidak boleh hanya berasakan tiga dimensi tempat saja (panjang, lebar dan tinggi) yang selama ini kita ketahui, akan tetapi, harus dimasukkan pula unsur waktu, yakni unsur kecepatan yang menguasai panjang, massa dan energi benda; serta selanjutnya menguasai lamanya benda dalam keadaannya yang utuh ataupun rusak. Demikianlah, sudah sewajarnya bila kita memperhatikan benda dengan pandangan yang relative yang berusaha memadukan unsur tempat, waktu, gerakan dan kecepatannya. Inilah makna “relativitas”.tentang teori relativitas itu sendiri, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
          
1. Tidak menetapkan kemutlakan tempat dan waktu sehingga telah mendekatkan diri pada keimanan akan eksistensi Allah.               
         
2. Telah menetapkan adanya kesatuan benda dan energi serta perubahan benda menjadi energi dan kemusnahannya.            
          
3. Telah menarik kesimpulan tentang tidak mustahilnya penciptaan dan kemusnahan. Berbeda dengan prinsip yang mengemukakan bahwa, “Tidak ada sesuatupun di alam ini yang diciptakan ataupun yang binasa.”            
                
Dengan demikian, teori relativitas ini sebenarnya semakin mendekatkan kita kepada keimanan dan kepada Allah. Lantas, bagaimana dengan Einstein itu sendiri, apakah ia termasuk orang yang beriman akan eksistensi Tuhan?
     
Ia tidak hanya meyakini adanya Tuhan saja. Akan tetapi, Einstein berpandangan bahwa tidak ada seorang ilmuwan pun yang genius yang dapat menembus berbagai rahasia hikmah dan keteraturan di dalam penciptaan alam ini kecuali apabila rasa keimanannya kepada Tuhan demikian besar. Bahkan, ia berpendapat bahwa sains tidak bisa berjalan dengan baik tanpa dukungan keimanan. Sebaliknya, keimanan tidak akan mendapat cahaya tanpa dukungan sains.
          
Selanjutnya, ia berkata –dan alangkah indah perkataanya itu- bahwa, “Getaran jiwa yang paling indah yang kita rasakan ialah getaran yang kita alami ketika kita berada di atas tangga kerahasiaan menuju pintu alam gaib. Getaran ini adalah inti untuk mengetahui kebenaran pada setiap bidang dan sains. Sungguh, matilah orang yang terasing dari perasaan ini. Sebab, ia senantiasa hidup dalam ketakutan tanpa ditemukan pada dirinya suatu jalan terbuka bagi indahnya kekaguman. 


Hakikat perasaan agama, pada esensinya, adalah ketika kita mengetahui bahwa Sesuatu (Tuhan) yang tidak bisa diketahui esensi zat-Nya adalah benar-benar ada, dan secara jelas, tampak dengan adanya tanda-tanda hikmah-Nya yang tinggi dan adanya kemegahan sinar-sinar keindahan yang tidak memungkinkan daya-daya pikir yang miskin untuk mengetahuinya; kecuali menggambarkan wataknya di permukaan tanpa berbagai detilnya yang ada di dalam.” 
         
Akhirnya, Einstein, dengan bisikan keimanan seorang ilmuwa yang mengetahui adanya korelasi antara keimanan kepada Allah dan sains, mengatakan, “Alangkah dalamnya keimanan terhadap hikmah yang menjadi dasar bangunan alam semesta yang diperoleh oleh  dan Newton. Alangkah rindunya untuk melihat cahaya terkecil dari cahaya akal yang tampak jelas pada alam semesta ini! Sungguh, aku tidak bisa membayangkan apabila seseorang yang benar –benar ilmuwan, yang tidak mengetahui bahwa prinsip-prinsip yang benar bagi alam yang nyata ini dibangun diatas dasar hikmah yang dapat dipahami oleh akal. 


Sains tanpa keimanan berjalan pincang, dan keimanan tanpa sains bagaikan orang butu yang meraba-raba di kegelapan.” Alangkah serasinya pernyataan Einstein ini dengan agama islam yang menyatakan bahwa ilmu tanpa amal (aksi) itu bagaikan pohon tak berbuah". Dan sebaliknya, amal (aksi) tanpa ilmu adalah kebohongan yang ditimbulkan dari ketidakingintahuan. Dan pernyataan Einstein itu serupa dengan pernyataan bahwa usaha tanpa do’a itu adalah sebuah kesombongan, dan do’a tanpa usaha adalah sebuah kemalasan dan kenihilan. Alangkah indahnya sains yang dibaluti dengan keimanan.         
      
Itulah segelintir pembicaraan tentang ilmuwan genius Einstein, yang gambarnya terpampang dalam poster dengan lidah menjulur seperti lambang grup band Rolling Stone yang senantiasa disertai dengan rumus E=mc2


Semoga bermanfaat.
Allahu ya’khudzu bi aidiina ilaa maa fiihi khoiron lil islam wal muslimin.


(download dalam bentuk dokumen)

Read more

Minggu, 24 April 2011

Paradoks

0

Oleh    : Endang Ruswandi


Kita sering mendengar ada pendapat bahwa rakyat Belanda memiliki sifat demagogisch, yaitu sifat berkilah, sifat suka mempertengkarkan perkara-perkara kecil, dengan melupakan hal-hal pokok yang besar, atau orang-orang Jepang yang suka bekerja keras, bahkan orang-orang Indonesia yang pemalas, benarkah?


Banyak orang mengupat bahwa para pejabat pemerintah semuanya adalah koruptor, hampir di semua instansi-instansi pemerintahan sudah tidak asing lagi dengan yang namanya korupsi, bahkan kita juga mengiyakan bahkan kita juga meng-iyakan bahwa para pejabat pemerintahan (Indonesia) itu semuanya koruptor. Apakah semua pernyataan-pernyataan itu benar?


Sesungguhnya kita sedang dihadapkan pada situasi Paradoks. Pada kesempatan ini saya akan mencoba menjelaskan apa itu sebenarnya yang di sebut dengan ParadoxKendatipun Aristoteles telah menyinggung tentang Paradoks di dalam logikanya, yang membahas secara mendetail dan mengembangkannya sedemikian rupa adalah penganut Madzhab Stoa, khususnya Chrysppus (280-207 SM) Chrysippus adalah pemimpin Madzhab Stoa yang ketiga dan yang terbesar.   

   
Paradoks adalah suatu situasi yang muncul dari sejumlah Premis (dasar pikiran, alasan) yang diakui kebenarannya yang bertolak dari suatu pernyataan dan akan tiba pada konklusi yang mengandung konflik atau kontradiksi. Paradoks disebut juga Antinomi karena melanggar Law Of Contradiction (Principium Contradictionis) atau hukum kontradiksi yang menyatakan bahwa tidak mungkin sesuatu itu pada waktu yang sama adalah sesuatu itu dan bukan sesuatu itu. Tidak ada satu hal pun yang dapat sekaligus A dan bukan -A. "Tidak dapat mengatakan, "Ia bernafas," dan "Ia juga tidak bernafas" sekaligus atau pada waktu yang sama. Maka yang  di maksud ialah mustahil ada hal yang bertentangan pada sesuatu pada waktu yang bersamaan untuk lebih memahami tentang Paradoks saya akan memberikan salah satu contoh dengan mengutip dari contoh yang sangat terkenal dan sangat tua yaitu Paradoks pembohong (Liar Paradox), sebagai berikut :



Epimenides  (si orang kereta) mengatakan bahwa semua orang yang ada didalam kereta adalah pembohong. Apakah pernyataan yang demikian itu benar? Mari kita ikuti dan pelajari rangkaian Premis-Premis (dasar pikiran atau alasan) berikut yang akan tiba pada dua konklusi atau kesimpulan yang bertentangan, perhatikan baik-baik contoh di bawah ini : 
   
~ Jika yang di katakan Epimenides itu benar, maka ia adalah bukan seorang pembohong.
~ Jika Epimenides bukan seorang pembohong, maka apa yang dikatakannya adalah tidak benar.
~ Jika apa yang dikatakannya itu  tidak benar, maka ia adalah seorang pembohong.           
Jadi, ia adalah seorang pembohong dan bukan seorang yang jujur. (Konklusi atau kesimpulan pertama).

~ Jika yang dikatakan Epimenides itu tidak benar, maka ia adalah seorang pembohong.     
~ Jika ia seorang pembohong, maka apa yang dikatakannya itu adalah tidak benar.
~ Jika apa yang di katakan Epimenides adalah tidak benar, maka ia adalah seorang yang jujur.     
Jadi, ia adalah orang yang jujur dan bukan seorang pembohong (konklusi atau kesimpulan kedua).

Apa yang di katakan Epimenides sesungguhnya secara serentak mengandung kebohongan dan kebenaran. Jika terbukti bohong, maka ia benar-benar seorang pembohong, dan  jika benar, maka ia adalah seorang yang jujur. Perhatikanlah baik-baik Premis-Premis gunakan dalam perdebatan untuk mematahkan argumentasi lawan dengan menempatkannya kedalam situasi yang sangat sulit dan serba salah.     
       
Demikianlah kiranya pembahasan tentang Paradoks, walaupun hanya sedikit dan sangat sederhana kiranya menjadi sumbangsih dan andil saya terhadap kemajuan keilmuan, serta bisa membantu saudara-saudara yang ingin mengasah akal-budinya untuk lebih tajam dalam berpikir. Mudah-mudahan bermanfaat bagi dunia, saya khususnya

Allahu Ya Khudzu Biaidina Ilaa Maa Fiihi Khairun Lil Islaam Wa Al-Muslimiina.

Read more

 
Design by ThemeShift | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Templates | Best Web Hosting